SUGENG RAWUH

Kamis, 30 Oktober 2014

Sudah Siapkah ketika Orangtua Kita Berkata Jujur?

Oleh : Hilman Rosyad Syihab

Kemarin lalu, saya bertakziah mengunjungi salah seorang kerabat yang sepuh. Umurnya sudah 93 tahun. Beliau adalah veteran perang kemerdekaan, seorang pejuang yang shalih serta pekerja keras. Kebiasaan beliau yang begitu hebat di usia yang memasuki 93 tahun ini, beliau tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah di masjid untuk Maghrib, Isya dan Shubuh.

Qadarallah, beliau mulai menua dan tidak mampu bangun dari tempat tidurnya sejak dua bulan lalu. Sekarang beliau hanya terbaring di rumah dengan ditemani anak-anak beliau. Kesadarannya mulai menghilang. Beliau mulai hidup di fase antara dunia nyata dan impian. Sering menggigau dan berkata dalam tidur, kesehariannya dihabiskan dalam kondisi tidur dan kepayahan.

Anak-anak beliau diajari dengan cukup baik oleh sang ayah. Mereka terjaga ibadahnya, berpenghasilan lumayan, dan akrab serta dekat. Ketika sang ayah sakit, mereka pun bergantian menjaganya demi berbakti kepada orangtua.

Namun ada beberapa kisah yang mengiris hati; kejadian jujur dan polos yang terjadi dan saya tuturkan kembali agar kita bisa mengambil ibrah.

Terkisah, suatu hari di malam lebaran, sang ayah dibawa ke rumah sakit karena menderita sesak nafas. Malam itu, sang anak yang kerja di luar kota dan baru saja sampai bersikeras menjaga sang ayah di kamar sendirian. Beliau duduk di bangku sebelah ranjang. Tengah malam, beliau dikejutkan dengan pertanyaan sang ayah,

"Apa kabar, pak Rahman? Mengapa beliau tidak mengunjungi saya yang sedang sakit?" tanya sang ayah dalam igauannya.

Sang anak menjawab, "Pak Rahman sakit juga, Ayah. Beliau tidak mampu bangun dari tidurnya." Dia mengenal Pak Rahman sebagai salah seorang jamaah tetap di masjid.

"Oh...lalu, kamu siapa? Anak Pak Rahman, ya?" tanya ayahnya kembali.

"Bukan, Ayah. Ini saya, Zaid, anak ayah ke tiga."

"Ah, mana mungkin engkau Zaid? Zaid itu sibuk! Saya bayar pun, dia tidak mungkin mau menunggu saya di sini. Dalam pikirannya, kehadirannya cukup digantikan dengan uang," ucap sang ayah masih dalam keadaan setengah sadar.

Sang anak tidak dapat berkata apa-apa lagi. Air mata menetes dan emosinya terguncang. Zaid sejatinya adalah seorang anak yang begitu peduli dengan orangtua. Sayangnya, beliau kerja di luar kota. Jadi, bila dalam keadaan sakit yang tidak begitu berat, biasanya dia menunda kepulangan dan memilih membantu dengan mengirimkan dana saja kepada ibunya. Paling yang bisa dilakukan adalah menelepon ibu dan ayah serta menanyakan kabarnya. Tidak pernah disangka, keputusannya itu menimbulkan bekas dalam hati sang ayah.

Kali yang lain, sang ayah di tengah malam batuk-batuk hebat. Sang anak berusaha membantu sang ayah dengan mengoleskan minyak angin di dadanya sembari memijit lembut. Namun, dengan segera, tangan sang anak ditepis.

"Ini bukan tangan istriku. Mana istriku?" tanya sang ayah.

"Ini kami, Yah. Anakmu." jawab anak-anak.

"Tangan kalian kasar dan keras. Pindahkan tangan kalian! Mana ibu kalian? Biarkan ibu berada di sampingku. Kalian selesaikan saja kesibukan kalian seperti yang lalu-lalu."

Dua bulan yang lalu, sebelum ayah jatuh sakit, tidak pernah sekalipun ayah mengeluh dan berkata seperti itu. Bila sang anak ditanyakan kapan pulang dan sang anak berkata sibuk dengan pekerjaannya, sang ayah hanya menjawab dengan jawaban yang sama.

"Pulanglah kapan engkau tidak sibuk."

Lalu, beliau melakukan aktivitas seperti biasa lagi. Bekerja, shalat berjamaah, pergi ke pasar, bersepeda. Sendiri. Benar-benar sendiri. Mungkin beliau kesepian, puluhan tahun lamanya. Namun, beliau tidak mau mengakuinya di depan anak-anaknya.

Mungkin beliau butuh hiburan dan canda tawa yang akrab selayak dulu, namun sang anak mulai tumbuh dewasa dan sibuk dengan keluarganya.

Mungkin beliau ingin menggenggam tangan seorang bocah kecil yang dipangkunya dulu, 50-60 tahun lalu sembari dibawa kepasar untuk sekadar dibelikan kerupuk dan kembali pulang dengan senyum lebar karena hadiah kerupuk tersebut. Namun, bocah itu sekarang telah menjelma menjadi seorang pengusaha, guru, karyawan perusahaan; yang seolah tidak pernah merasa senang bila diajak oleh beliau ke pasar selayak dulu. Bocah-bocah yang sering berkata, "Saya sibuk...saya sibuk. Anak saya begini, istri saya begini, pekerjaan saya begini." Lalu berharap sang ayah berkata, "Baiklah, ayah mengerti."

Kemarin siang, saya sempat meneteskan air mata ketika mendengar penuturan dari sang anak. Karena mungkin saya seperti sang anak tersebut; merasa sudah memberi perhatian lebih, sudah menjadi anak yang berbakti, membanggakan orangtua, namun siapa yang menyangka semua rasa itu ternyata tidak sesuai dengan prasangka orangtua kita yang paling jujur.

Maka sudah seharusnya, kita, ya kita ini, yang sudah menikah, berkeluarga, memiliki anak, mampu melihat ayah dan ibu kita bukan sebagai sosok yang hanya butuh dibantu dengan sejumlah uang. Karena bila itu yang kita pikirkan, apa beda ayah dan ibu kita dengan karyawan perusahaan?

Bukan juga sebagai sosok yang hanya butuh diberikan baju baru dan dikunjungi setahun dua kali, karena bila itu yang kita pikirkan, apa bedanya ayah dan ibu kita dengan panitia shalat Idul Fitri dan Idul 'Adha yang kita temui setahun dua kali?

Wahai yang arif, yang budiman, yang penyayang dan begitu lembut hatinya dengan cinta kepada anak-anak dan keluarga, lihat dan pandangilah ibu dan ayahmu di hari tua. Pandangi mereka dengan pandangan kanak-kanak kita. Buang jabatan dan gelar serta pekerjaan kita. Orangtua tidak mencintai kita karena itu semua. Tatapilah mereka kembali dengan tatapan seorang anak yang dulu selalu bertanya dipagi hari, "Ke mana ayah, Bu? Ke mana ibu, Ayah?"

Lalu menangis kencang setiap kali ditinggalkan oleh kedua orangtuanya.

Wahai yang menangis kencang ketika kecil karena takut ditinggalkan ayah dan ibu, apakah engkau tidak melihat dan peduli dengan tangisan kencang di hati ayah dan ibu kita karena diri telah meninggalkan beliau bertahun-tahun dan hanya berkunjung setahun dua kali?

Sadarlah wahai jiwa-jiwa yang terlupa akan kasih sayang orangtua kita. Karena boleh jadi, ayah dan ibu kita, benar-benar telah menahan kerinduan puluhan tahun kepada sosok jiwa kanak-kanak kita; yang selalu berharap berjumpa dengan beliau tanpa jeda, tanpa alasan sibuk kerja, tanpa alasan tiada waktu karena mengejar prestasi.

Bersiaplah dari sekarang, agar kelak, ketika sang ayah dan ibu berkata jujur tentang kita dalam igauannya, beliau mengakui, kita memang layak menjadi jiwa yang diharapkan kedatangannya kapan pun juga.

Smoga mnjadi bahan renungan bagi kita semua.
Semoga bermanfaat (dr group sebelah)

Kisah Nyata Penderita Stroke

ODOJ-ku therapist-ku

Kisah ini kutulis dengan tanganku yang kiri. Keren kayak orang kidal, tapi sebenarnya aku sedang mendapat anugerah, dari Allah SWT, yang tak ternilai harganya. Pola hidup yang tidak sehat dan pola makan yang sembarangan membuat tumpukan kolesterol dan tekanan darah yang tinggi yang memicu stroke. Yah, separuh badanku lumpuh saat itu.

Beruntung, keluargaku selalu mendukung kesembuhanku. Isteriku dan dua anak laki-lakiku membuatku selalu semangat untuk memerangi sakitku ini. Isteriku selalu mengingatkan bahwa anak-anak masih kecil dan butuh kasih sayang ayahnya. Mulai saat itu aku selalu ingin mengikuti tumbuh kembang mereka.

Dua tahun sudah aku menjalani hari-hariku dengan separuh anggota badanku. Tangan dan kaki kananku belum sepenuhnya berfungsi. Tapi tangan lemah itu pernah menyentuh hajar aswad dan kaki pincang itu pernah mengelilingi ka'bah tanpa lelah. Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya, ternyata tahun 2013 bisa menunaikan ibadah umroh. Kalau menabungpun, mungkin aku perlu puluhan tahun untuk membayar biayanya. Namun Allah SWT telah memilih orang untuk membiayai umrohku. Gratis. Itulah kenapa saya menyebut sakit ini sebagai anugerah, karena hadiah demi hadiah berdatangan tiap tahunnya.

 Di tahun 2014, Allah mempertemukanku dengan komunitas ODOJ. Ya, aku terdaftar jadi anggota ODOJ 209 tahun ini. Disinilah terbuka kembali getaran getaran hidup. Di komunitas inilah aku mendapatkan teman yang menjadi saudara sehati dan seiman. Saling tolong menolong, bantu membantu terjadi disini, tanpa didasari kepentingan dunia. Bahasa yang digunakan pasti dengari  bahasa yang halus lembut tidak menyakitkan. Mulai dari admin sampai dua puluh sembilan anggotanya santun. Aku pernah bertanya dalam hati, apakah ini surga dunia yang diberikan Allah kepadaku?.

ODOJ adalah hadiah besar dari Allah SWT di tahun ini. Istri dan anakku yang pertama juga sudah masuk dalam komunitas ini. Aku di ODOJ 209, istriku ODOJ 2630 dan anakku ODOLKIDS 1.  Bahkan saat menulis inipun saya baru saja diterima admin di ODALF oleh Mas Karyadi, pengurus ODOJ. Alhamdulillah. Itu semua karena sekeluarga memiliki ketenangan jiwa dan kemantapan dengan membaca Alquran setiap hari. Bahkan yang kami rasakan sekarang ada yang kurang dalam hidup kami jika tidak membaca Al Quran.

Awalnya, aku butuh penyesuaian untuk menyelesaikan satu juz. Terkadang ada saja kegiatan yang menghalangi tilawah alquran. Tetapi saya termotivasi oleh istri yang juga ngikut ODOJ, istriku bisa mengapa saya tidak. Padahal istriku disela sela pekerjaannya yang menumpuk dari bangun tidur sampai tidur lagi saja bisa menyelesaiakan juznya, dibandigkan aku yang tidak bekerja malah  tidak selesai. Dari sini aku mulai berniat menyelesaikan juz di ODOJ, walaupun jangkanya  lebih dari yang ditentukan. Perasaan saya diwaktu khatam pertama jus 17, tak bisa dibayangkan dengan kata kata. Yang ada hanya ucapan alhamdulillah ternyata Allah meridhoi niat ku. Dan disinilah hatiku  bisa merasakan dan membedakan  yang termasuk ajakan ma'ruf  ataupun munkar dengan mengikuti ataupun menolak.

Hemiplegia kanan membuat tangan kananku kesulitan untuk mengedit daftar tugas tilawah di grupku. Saat menjadi PJH, beberapa kritikan sempat terlontar dari teman-teman. Karena harus menggunakan tangan kiri untuk mengedit daftar tilawah, sehingga banyak kesalahan yang aku lakukan. Terus terang aku kewalahan untuk melakukan update tilawah. Namun ketika  aku sampaikan tentang keterbatasanku, alhamdulillah, teman-teman memahami hal itu. Sekarang, bahkan aku berani melamar menjadi admin ODALF dengan modal tangan kiriku.

Selain gerak motorik yang terbatas, aku juga mengalami afasia. Semacam gangguan bahasa. Aku selalu kesulitan dalam mengungkapkan dan melafalkan kalimat yang ada di pikiranku. ODOJ merupakan therapist-ku. ODOJ melatih apa  yang dilihat dimasukkan dalam hati dan pikiran lalu dikeluarkan dengan kalimat yang tajwidnya benar. Ini efektif untuk berlatih bicara dalam waktu tertentu dan dilakukan setiap hari. Keuntungan yang aku peroleh adalah lancer berbicara dan mendapat pahala dari Allah SWT. Dua kebaikan sekaligus. Alhamdulillah sekarang sudah bisa bicara dengan tutur kata yang lebih tersusun rapi dari sebelumnya.

Penglihatanku juga menurun karena deficits after stroke. Tantangan tersendiri ketika harus membaca dalam waktu yang lama. Karena setelah serangan stroke, huruf-huruf yang aku lihat seperti berkumpul jadi satu, sehingga aku kesulitan untuk membaca. Namun memasuki bulan ketiga di ODOJ, mataku mulai terbiasa membaca huruf-huruf hijaiyyah itu.

ODOJ juga mempertemukanku dengan beberapa orang-orang istimewa. Saat acara grand launching ODOJ, aku bertemu dengan anak muda yang selalu membaca Alquran dan bertemu dengan Pak Tanjung, anggota grupku, yang ternyata sudah berusia lanjut. Dialah yang selalu menyelesaikan bacaannya di sepertiga malam terakhir. Sempat terlintas dalam hati, andai masa mudaku seperti anak muda itu dan andai masa tuaku seperti orang tua itu, maka kebahagiaan dunia akhirat akan aku dapatkan.

Teman temanku dahulu sewaktu SMA juga reuni dibawah payung ODOJ. Semua berkumpul tanpa perbedaan paham, asyik sekali berbincang satu hal Alquran. Bahkan dengan semangat yang tinggi merayu teman teman dengan kalimat "ayo siapa berani daftar ODOJ silahkan kirim nama dan no hp, tanpa biaya alias gratis dapat piala dari Allah SWT dan menambah ukhuwah". Akhirnya banyak teman temanku yang bergabung di ODOJ.

Penderita stroke karena hipertensi, sangat sensitif dan mudah marah. Begitu pula aku. Tapi ODOJ melatihku menjadi orang yang sabar dan ikhlas. Mungkin kalau ada yang setiap saat mengukur tensiku, dua bulan ini selalu pada batas normal. Kesabaran dan keihlasanku itu pernah diuji. Seorang kenalan menawari pekerjaan di sebuah perusahaan otomotif. Dia meyakinkan bahwa perusahaan menerima keterbatasan fisikku. Tanpa berpikir panjang, akupun mengiyakan dan memberikan sejumlah uang yang menjadi persyaratan masuknya. Seluruh persyaratan aku serahkan kepadanya, dengan kepercayaan penuh. Beberapa hari kemudian dia menghilang dan tidak pernah menghubungiku sama sekali. Akupun sadar, aku telah tertipu. Namun anehnya, tidak ada perasaan dendam atau marah, seperti biasa yang aku rasakan sebagai penderita hippertensi.  Al Quran  yang aku baca hari itu seperti sihir pelunak hati dan pikiran.

Itulah hadiah terbesar dari Allah SWT tahun ini. ODOJ telah menjadi therapist fisik dan psikisku. Akupun merasakan kesembuhan itu. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi penderita stroke yang lain untuk menjadi alternatif pendorong kesembuhan dan semangat untuk hidup. Bagi teman-teman yang sehat, berbahagialah anda punya mata yang sehat, tangan yang lengkap dan mental yang sehat untuk memaksimalkan tilawah. Tetap semangat dan tetap sehat. Terima kasih, ODOJ-ku therapist-ku.

 
Penulis,

Moh Nanang Safi'I (ODOJ 209)

Minggu, 19 Oktober 2014

Masalah

Hidup ini tak lekang dengan masalah, silih berganti masalah selalu datang menghampiri, selesai masalah satu muncul masalah yg lain, dan semua itu berputar seakan2 tiada titik akhir.
Tetapi pernahkah kita sejenak merenung, berfikir, dan bertafakur tentang apa itu "masalah" ?
Pernahkah kita menarik pelajaran berharga atau menarik hikmah kehidupan dari banyaknya masalah yg kita hadapi?
Pernahkah kita bertanya kepada Allah kenapa Masalah itu selalu ada untuk kita ?
Atau justru kita mencoba lari dari masalah, pura2 mengaburkannya, atau justru menyerah pada masalah itu ?

Jika hal itu yg terjadi kepada engkau, sungguh apakah engkau telah melupakan ayat2 Allah yg mengabarkan tentang indahnya menghadapi kesulitan/masalah.

Apakah tidak pernah engkau membaca ayat2-Nya, yang selalu mengatakan bahwa "sesungguhnya disetiap kesulitan selalu ada kemudahan, bahwa disetiap permasalahan kehidupan akan ada selalu solusi".

Sungguh jika benar yg terjadi pada dirimu bahwasanya engkau telah melupakan ayat2 Tuhanmu itu, maka bersegeralah beristighfar, memohon ampun engkau kepada-Nya.

Jika engkau sedang berada dalam masalah, jika engkau sedang dirundung kesulitan, jika engkau merasa begitu banyaknya problematika kehidupan yg engkau rasakan, maka kunci untuk menyelesaikan semuanya adalah datanglah kembali engkau kepada Allah Tuhanmu.

Datanglah engkau kepadaNya, berkeluh kesahlah, dan berdoalah karena sesungguhnya Allah menyukai hamba2nya yg berdoa dan berpasrah diri kepadaNya.

"Dan apabila hamba2ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang2 yg berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah2Ku), dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran". ( QS.2:186)

Apa susahnya diri kita untuk datang kepadaNya, berkeluh kesah, dan berdoa memohon kepadaNya.
Bukankah setiap masalah yg terjadi kepada diri kita semua ini hanya bisa terjadi karena telah diizinkan olehNya. Atau masihkah kita terus meyakini dan mengatakan bahwa masalah itu Besar.
Kenapa tidak pernah kita ini mengatakan "Wahai Masalah bukan engkau yang Besar, tetapi Allahlah yang Maha Besar".
Ingatlah saudaraku apapun masalahnya hanya dengan mendekat dan mengingat Allahlah engkau akan menjadi tenang.

"Hanya dengan mengingat Allahlah hatimu akan menjadi tenang". (QS. Ar. Rad :28).

Doa adalah kunci dari penyelesaian setiap masalah. Dengan doa engkau bisa melepaskan kepenatan hatimu, melepaskan rasa was2 dan keraguanmu, dan dengan doa engkau akan meyakini dan menyadari bahwa betapa butuhnya diri ini akan keberadaan Allah Tuhanmu.

Mendekatlah, menangislah, berkeluh kesahlah, engkau kepada Allah tentang masalah2mu , lalu berdoalah maka Allah akan mengabulkan doa2 dan pengharapanmu.

Salam FULL Semangat .... !!!

Agus Heru Pitoyo

PSDM/TM/37/20/10/2014

ODOJ#482

Jumat, 17 Oktober 2014

a man called zoro



A man made a promise.. 
a man swore to be the best.. 
a man with ambition ..   
a man seeks revenge..   
a man cuts what he wills … 
a man turned into a devil .. 
a man chose to sacrifice ..   
a man that experienced hell ..   
a man refused to lose ..


Kamis, 16 Oktober 2014

Mutiara di balik Ujian

Semua fenomena apapun yang dapat mendekatkan seorang hamba kapada Allah adalah karunia sedangkan semua fenomena apapun yang dapat menjauhkan seorang hamba kepada Allah, sesungguhnya itulah  musibah yang nyata

Namun pernahkah kita berpikir bahwa semua kejadian baik dan buruk yang Allah tetapkan untuk kita merupakan bentuk sayang Nya yang tiada terhingga?

Pernahkah kita berpikir bahwa kejadian yang kita anggap buruk yang menimpa kita merupakan jawaban dari doa doa kita selama ini?

Sahabatku,
Ketika seorang mahasiswa berdoa kepada Allah agar nilai ujian skripsinya sempurna, Allah menhadirkan pembimbing yang sangat killer kapadanya..
namun Apa responnya?.Dia merasa sangat tertekan.

Ketika seorang hamba meminta agar ia istiqomah BerODOJ, Allah mempertemukannya dengan admin yang cukup sering menghubunginya ketika dia belum kholas tilawah dan mendekati limit

Ketika seorang hamba meminta agar diberikan pekerjaan yang mendatangkan keridhoaanNya, dia merasa sangat sedih ketika banyak lamaran yang Ia ajukannya ditolak

Ketika seorang suami menginginkan keluarganya menjadi keluarga dakwah yang sakinah mawaddah warahmah, Allah membukakan keburukan istrinya di hadapannya..

Seperti tebu yang di proses menjadi kristal gula yang sempurna, si tebu akan melewati proses penggilingan, pemurnian, dimana didalamnya akan melewati pemanasan tingkat tinggi dan di tambah dengan larutan asam sulfat dan bahan kimia lainnya untuk menghilangkan kotoran kotorannya, selanjutnya proses kristalisasi yang menghasilkan kristal gula.
Jawaban dari doa kita pun melalui proses yang serupa.. kadangkala kita harus melewati proses yang pahit, proses yang menyakitkan menuju kehidupan yang bahagia..

Sahabatku..
Berpikir positiflah kapadaNya karena pasti ada Mutiara di balik ujian, 
Karena Allah tahu yang terbaik untuk hambaNya..

Oleh: Ummu Zaheera

Rabu, 15 Oktober 2014

POHON KORMA

Ada kata2 bijak kuno yang mengatakan bahwa " orang benar akan bertunas seperti pohon korma "

Pohon korma lazim dijumpai di Timur Tengah. Dgn kondisi tanah yg kering, gersang, tandus & kerap dihantam badai gurun yg dahsyat, hanya pohon korma yg bisa bertahan hidup. Tak berlebihan kalau pohon korma dianggap sebagai pohon yg tahan banting.

Kekuatan pohon korma ada di akar2nya. Petani di Timur Tengah menanam biji korma ke dlm lubang pasir lalu ditutup dgn batu. Mengapa biji itu hrs ditutup batu ?  Ternyata, batu tsb memaksa pohon korma berjuang utk tumbuh ke atas. Justru krn pertumbuhan batang mengalami hambatan, hal tsb membuat pertumbuhan akar ke dlm tanah menjadi maksimal. Setelah akarnya menjadi kuat, barulah biji pohon korma itu bertumbuh ke atas, bahkan bisa menggulingkan batu yg menekan diatasnya.

"Ditekan dari atas, supaya bisa mengakar kuat ke bawah."

Bukankah itu prinsip kehidupan yg luar biasa ?

Sekarang kita tahu mengapa ALLAH kerapkali mengijinkan tekanan hidup datang. Bukan utk melemahkan & menghancurkan kita, sebaliknya ALLAH mengijinkan tekanan hidup itu utk membuat kita berakar makin kuat. Tak sekedar bertahan, tapi ada waktunya benih yg sdh mengakar kuat itu akan menjebol "batu masalah" yg selama ini menekan kita. Kita keluar menjadi pemenang kehidupan.

ALLAH mendesain kita seperti pohon korma. Sebab itu jadilah tangguh, kuat & tegar menghadapi beratnya kehidupan.

Milikilah cara pandang positif bahwa tekanan hidup tak akan pernah bisa melemahkan, justru tekanan hidup akan memunculkan kita menjadi pemenang2 kehidupan.

Sebait catatan nasihat
(Alm) Ustadz Rahmat Abdullah

Selasa, 14 Oktober 2014

Ketika Yang Halal Tercampur Yang Haram

Seseorang datang kepada Imam Syafi’i mengadukan tentang kesempitan hidup yang ia alami. Dia memberi tahukan bahwa ia bekerja sebagai orang upahan dengan gaji 5 dirham. Dan gaji itu tidak mencukupinya.

Namun anehnya, Imam Syafi’i justru menyuruh dia untuk menemui orang yang mengupahnya supaya mengurangi gajinya menjadi 4 dirham. Orang itu pergi melaksanakan perintah Imam Syafi’i sekalipun ia tidak paham apa maksud dari perintah itu.

Setelah berlalu beberapa lama orang itu datang lagi kepada Imam Syafi’i mengadukan tentang kehidupannya yang tidak ada kemajuan. Lalu Imam Syafi’i memerintahkannya untuk kembali menemui orang yang mengupahnya dan minta untuk mengurangi lagi gajinya menjadi 3 dirham. Orang itupun pergi melaksanakan anjuran Imam Syafi’i dengan perasaan sangat heran.

Setelah berlalu sekian hari orang itu kembali lagi menemui Imam Syafi’i dan berterima kasih atas nasehatnya. Ia menceritakan bahwa uang 3 dirham justru bisa menutupi seluruh kebutuhan hidupnya, bahkan hidupnya menjadi lapang. Ia menanyakan apa rahasia di balik itu semua?

Imam Syafi’i menjelaskan bahwa pekerjaan yang ia jalani itu tidak berhak mendapatkan upah lebih dari 3 dirham. Dan kelebihan 2 dirham itu telah mencabut keberkahan harta yang ia miliki ketika tercambur dengannya.

Lalu Imam Syafi’i membacakan sebuah sya’ir:

جمع الحرام على الحلال ليكثره
دخل الحرام على الحلال فبعثره

Dia kumpulkan yang haram dengan yang halal supaya ia menjadi banyak.

Yang harampun masuk ke dalam yang halal lalu ia merusaknya.

_____

Barangkali kisah ini bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita dalam bekerja. Jangan terlalu berharap gaji besar bila pekerjaan kita hanya sederhana. Dan jangan berbangga dulu mendapatkan gaji besar, padahal etos kerja sangat lemah atau tidak seimbang dengan gaji yang diterima.

Bila gaji yang kita terima tidak seimbang dengan kerja, artinya kita sudah menerima harta yang bukan hak kita. Itu semua akan menjadi penghalang keberkahan harta yang ada, dan mengakibatkan hisab yang berat di akhirat kelak.

Harta yang tidak berkah akan mendatangkan permasalahan hidup yang membuat kita susah, sekalipun bertaburkan benda-benda mewah dan serba lux. Uang banyak di bank tapi setiap hari cek-cok dengan istri. Anak-anak tidak mendatangkan kebahagiaan sekalipun jumlahnya banyak. Dengan teman dan jiran sekitar tidak ada yang baikan.

Kendaraan selalu bermasalah. Ketaatan kepada Allah semakin hari semakin melemah. Pikiran hanya dunia dan dunia. Harta dan harta. Penglihatan selalu kepada orang yang lebih dalam masalah dunia. Tidak pernah puas, sekalipun mulutnya melantunkan alhamdulillah tiap menit.

Kening selalu berkerut. Satu persatu penyakitpun datang menghampir. Akhirnya gaji yang besar habis untuk cek up ke dokter sana, periksa ke klinik sini. Tidak ada yang bisa di sisihkan untuk sedekah, infak dan amal-amal sosial demi tabungan masa depan di akhirat. Menjalin silaturrahim dengan sanak keluarga pun tidak. Semakin kelihatan mewah pelitnya juga semakin menjadi. Masa bodoh dengan segala kewajiban kepada Allah. Ada kesempatan untuk shalat ya syukur, tidak ada ya tidak masalah.

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk serius dalam bekerja dan itqan, hingga rezeki kita menjadi berkah dunia dan akhirat.
Amin..
#ODOJ482

Nasihat untuk anak

Andailah suatu hari anak sy bertanya "Abi,, abi ingin aku menjadi apa?."

Rasanya sy ingin menjawab pertanyaan anak sy itu dgn;

"Nak, abi tak bangga kau sekolah tinggi2, karena abi yakin kemulian tidak bisa dicapai oleh gelar sekolahan.

Namun tetap sekolahlah sebaiknya, setinggi-tingginya. Tunaikan hutang abi kepada kakek-nenekmu, yg mereka mungkin telah mengubur harapan akan keberhasilan abi."

"Nak, abi tak daya menuntutmu menjadi anak shalih. Karena abi sadar dan rasakan betapa payah dan sulitnya menuju itu.

Namun tetap berusahalah shalihkan lahir-batinmu, karena itu adalah satu2nya cara untuk menyemai generasi shalih anak-keturunanmu kelak."

"Nak, abi bersyukur kpd Allah atas hadirmu, sehatnya lahirmu dan sejuknya menatapmu.

Namun abi pun sangat 'bersyukur' kpdmu, jika kau mampu selalu sehatkan imanmu, halalkan makananmu dan menjaga kehormatanmu."

* * *

Anak bagi kita tentunya merupakan sebuah karunia tiada tara, namun karunia sesungguhnya adalah tatkala anak kita menggamit tangan kita menuju surga-Nya, dan memakaikan mahkota dari cahaya ke atas kepala kita.

Semua itu dapat terwujud hanya bila kita mampu 'mewariskan' iman yg kuat kpd anak2

===================

ustz Muh. Faudil Adzim