SUGENG RAWUH

Rabu, 12 November 2014

Ngopi teruss

Nih dah semingguuan kerja bantu di lapangan.. di ptk 7G .. pagi sampe sore kerja.. malem lembur..
Waaaahhh hahahah yg penting ada kopi .. muaantap sekaleeee wkwk

Senin, 03 November 2014

Al Quran Pelembut Hati

Hajjaj adalah gubernur Irak di zaman pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan, sebelumnya ia adalah gubernur Madinah. Hajjaj dikenal sebagai pemimpin zalim dan sangat mudah menumpahkan darah rakyatnya. Imam adz-Dzahabi mengatakan, “Dia orang yang sangat zalim, tiran, amibisius, perfeksionis, nista, dan kejam. Di sisi lain ia adalah seorang yang pemberani, ahli strategi dan rekayasa, fasih dan pandai bernegosiasi, serta sangat menghormati Alquran.” Ada yang mengatakan, Hajjaj telah membunuh kurang lebih 3000 jiwa di antara nyawa yang ia hilangkan adalah seorang sahabat yang mulia Abdullah bin Zubair dan seorang tabi’in Said bin Jubair. Hajjaj wafat pada tahun 95 H.

Rekam jejak yang kelam,sangat jarang kita mendengarkan kisah yang baik dari perjalanan kehidupan Hajjaj bin Yusuf. Namun siapa sangka, ternyata ia sangat mudah tersentuh ketika mendengar ayat-ayat Alquran.Diriwayatkan dari Abu Sa’id, ia berkata, “Hajjaj pernah berkhutbah di hadapan kami, dia berkata, ‘Wahai anak Adam, sekarang kamu dapat makan, tapi besok kamu akan dimakan’. Kemudian dia membaca ayat, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185). Kemudian ia menangis hingga air matanya membasahi surbannya.

Inilah bahasa Alquran, inilah kalamullah, yang mampu menghancurkan gunung yang kokoh, karena takut dan tunduk kepada Allah

"Seandainya Alquran ini Kami turunkan kepada gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. (QS. Al-Hasyr: 21)

Ibnu Katsir berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan sebuah kabar umum yang universal dan berlaku bagi seluruh makhluk, bahwa setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati.

Dalam firman-Nya disebutkan : "Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (QS. Ar- Rahman: 26-27)

Ayat ini mengandung peringatan bagi seluruh manusia, karena manusia pasti akan mati. Apabila batas waktunya berakhir, maka manusia akan dikembalikan kepada Rabb mereka dengan amalan mereka masing-masing. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan kiamat dan akan membalas seluruh amal perbuatan semua makhluk. Oleh karena itu, setelah berfirman bahwa semua manusia akan mati, Allah lanjutklan firman-Nya

"ِDan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran : 185)

Pelajaran dari kisah:

1. Orang yang dikenal sangat zalim pun masih menangis mendengar ayat-ayat tentang kematian, bagaimana dengan kita? Apakah hati kita merasa takut dan bergetar ketika mendengar ayat-ayat tentang kematian? Atukah hati kita lebih keras dari pada gunung?

2. Tidak boleh mencap seseorang yang senantiasa berbuat keburukan sebagai penghuni neraka ketika dia masih Islam. Sebagaimana Hajjaj -kita serahkan kepada Allah keadaannya di akhirat-, dikatakan Hajjaj pernah berdoa di akhir hayatnya “Ya Allah ampunilah aku, walaupun manusia menyangka Engkau tidak mengampuniku.

3. ”Allah menjadikan Alquran itu mudah untuk ditadabburi bagi orang-orang yang ingin merenungkan kandungan maknanya. 

4.Seseorang hendaknya mengamalkan apa yang ia ketahui dan ia dakwahkan. Sebagaimana Hajjaj yang mengetahui bahwa Allah akan menghisab amalan manusia, hendaknya ia berbuat kebaikan sebagai realisasi dari apa yang ia ketahui dan yakini.Hajjaj memang pemimpin yang zalim dan mudah membunuh, tapi dari sisi keyakinannya terhadap Alquran ia lebih baik daripada orang-orang liberal yang tampil bersahaja namun mengingkari ayat Alquran yang bertentangan dengan akal mereka dan menafsirkannya sesuai dengan hawa nafsu mereka.

Sumber: Tangisan Salaf Ketika Membaca dan Mendengarkan Alquran oleh Muhammad Syauman bin Ahmad ar-Ramali

#odoj482

Kamis, 30 Oktober 2014

Sudah Siapkah ketika Orangtua Kita Berkata Jujur?

Oleh : Hilman Rosyad Syihab

Kemarin lalu, saya bertakziah mengunjungi salah seorang kerabat yang sepuh. Umurnya sudah 93 tahun. Beliau adalah veteran perang kemerdekaan, seorang pejuang yang shalih serta pekerja keras. Kebiasaan beliau yang begitu hebat di usia yang memasuki 93 tahun ini, beliau tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah di masjid untuk Maghrib, Isya dan Shubuh.

Qadarallah, beliau mulai menua dan tidak mampu bangun dari tempat tidurnya sejak dua bulan lalu. Sekarang beliau hanya terbaring di rumah dengan ditemani anak-anak beliau. Kesadarannya mulai menghilang. Beliau mulai hidup di fase antara dunia nyata dan impian. Sering menggigau dan berkata dalam tidur, kesehariannya dihabiskan dalam kondisi tidur dan kepayahan.

Anak-anak beliau diajari dengan cukup baik oleh sang ayah. Mereka terjaga ibadahnya, berpenghasilan lumayan, dan akrab serta dekat. Ketika sang ayah sakit, mereka pun bergantian menjaganya demi berbakti kepada orangtua.

Namun ada beberapa kisah yang mengiris hati; kejadian jujur dan polos yang terjadi dan saya tuturkan kembali agar kita bisa mengambil ibrah.

Terkisah, suatu hari di malam lebaran, sang ayah dibawa ke rumah sakit karena menderita sesak nafas. Malam itu, sang anak yang kerja di luar kota dan baru saja sampai bersikeras menjaga sang ayah di kamar sendirian. Beliau duduk di bangku sebelah ranjang. Tengah malam, beliau dikejutkan dengan pertanyaan sang ayah,

"Apa kabar, pak Rahman? Mengapa beliau tidak mengunjungi saya yang sedang sakit?" tanya sang ayah dalam igauannya.

Sang anak menjawab, "Pak Rahman sakit juga, Ayah. Beliau tidak mampu bangun dari tidurnya." Dia mengenal Pak Rahman sebagai salah seorang jamaah tetap di masjid.

"Oh...lalu, kamu siapa? Anak Pak Rahman, ya?" tanya ayahnya kembali.

"Bukan, Ayah. Ini saya, Zaid, anak ayah ke tiga."

"Ah, mana mungkin engkau Zaid? Zaid itu sibuk! Saya bayar pun, dia tidak mungkin mau menunggu saya di sini. Dalam pikirannya, kehadirannya cukup digantikan dengan uang," ucap sang ayah masih dalam keadaan setengah sadar.

Sang anak tidak dapat berkata apa-apa lagi. Air mata menetes dan emosinya terguncang. Zaid sejatinya adalah seorang anak yang begitu peduli dengan orangtua. Sayangnya, beliau kerja di luar kota. Jadi, bila dalam keadaan sakit yang tidak begitu berat, biasanya dia menunda kepulangan dan memilih membantu dengan mengirimkan dana saja kepada ibunya. Paling yang bisa dilakukan adalah menelepon ibu dan ayah serta menanyakan kabarnya. Tidak pernah disangka, keputusannya itu menimbulkan bekas dalam hati sang ayah.

Kali yang lain, sang ayah di tengah malam batuk-batuk hebat. Sang anak berusaha membantu sang ayah dengan mengoleskan minyak angin di dadanya sembari memijit lembut. Namun, dengan segera, tangan sang anak ditepis.

"Ini bukan tangan istriku. Mana istriku?" tanya sang ayah.

"Ini kami, Yah. Anakmu." jawab anak-anak.

"Tangan kalian kasar dan keras. Pindahkan tangan kalian! Mana ibu kalian? Biarkan ibu berada di sampingku. Kalian selesaikan saja kesibukan kalian seperti yang lalu-lalu."

Dua bulan yang lalu, sebelum ayah jatuh sakit, tidak pernah sekalipun ayah mengeluh dan berkata seperti itu. Bila sang anak ditanyakan kapan pulang dan sang anak berkata sibuk dengan pekerjaannya, sang ayah hanya menjawab dengan jawaban yang sama.

"Pulanglah kapan engkau tidak sibuk."

Lalu, beliau melakukan aktivitas seperti biasa lagi. Bekerja, shalat berjamaah, pergi ke pasar, bersepeda. Sendiri. Benar-benar sendiri. Mungkin beliau kesepian, puluhan tahun lamanya. Namun, beliau tidak mau mengakuinya di depan anak-anaknya.

Mungkin beliau butuh hiburan dan canda tawa yang akrab selayak dulu, namun sang anak mulai tumbuh dewasa dan sibuk dengan keluarganya.

Mungkin beliau ingin menggenggam tangan seorang bocah kecil yang dipangkunya dulu, 50-60 tahun lalu sembari dibawa kepasar untuk sekadar dibelikan kerupuk dan kembali pulang dengan senyum lebar karena hadiah kerupuk tersebut. Namun, bocah itu sekarang telah menjelma menjadi seorang pengusaha, guru, karyawan perusahaan; yang seolah tidak pernah merasa senang bila diajak oleh beliau ke pasar selayak dulu. Bocah-bocah yang sering berkata, "Saya sibuk...saya sibuk. Anak saya begini, istri saya begini, pekerjaan saya begini." Lalu berharap sang ayah berkata, "Baiklah, ayah mengerti."

Kemarin siang, saya sempat meneteskan air mata ketika mendengar penuturan dari sang anak. Karena mungkin saya seperti sang anak tersebut; merasa sudah memberi perhatian lebih, sudah menjadi anak yang berbakti, membanggakan orangtua, namun siapa yang menyangka semua rasa itu ternyata tidak sesuai dengan prasangka orangtua kita yang paling jujur.

Maka sudah seharusnya, kita, ya kita ini, yang sudah menikah, berkeluarga, memiliki anak, mampu melihat ayah dan ibu kita bukan sebagai sosok yang hanya butuh dibantu dengan sejumlah uang. Karena bila itu yang kita pikirkan, apa beda ayah dan ibu kita dengan karyawan perusahaan?

Bukan juga sebagai sosok yang hanya butuh diberikan baju baru dan dikunjungi setahun dua kali, karena bila itu yang kita pikirkan, apa bedanya ayah dan ibu kita dengan panitia shalat Idul Fitri dan Idul 'Adha yang kita temui setahun dua kali?

Wahai yang arif, yang budiman, yang penyayang dan begitu lembut hatinya dengan cinta kepada anak-anak dan keluarga, lihat dan pandangilah ibu dan ayahmu di hari tua. Pandangi mereka dengan pandangan kanak-kanak kita. Buang jabatan dan gelar serta pekerjaan kita. Orangtua tidak mencintai kita karena itu semua. Tatapilah mereka kembali dengan tatapan seorang anak yang dulu selalu bertanya dipagi hari, "Ke mana ayah, Bu? Ke mana ibu, Ayah?"

Lalu menangis kencang setiap kali ditinggalkan oleh kedua orangtuanya.

Wahai yang menangis kencang ketika kecil karena takut ditinggalkan ayah dan ibu, apakah engkau tidak melihat dan peduli dengan tangisan kencang di hati ayah dan ibu kita karena diri telah meninggalkan beliau bertahun-tahun dan hanya berkunjung setahun dua kali?

Sadarlah wahai jiwa-jiwa yang terlupa akan kasih sayang orangtua kita. Karena boleh jadi, ayah dan ibu kita, benar-benar telah menahan kerinduan puluhan tahun kepada sosok jiwa kanak-kanak kita; yang selalu berharap berjumpa dengan beliau tanpa jeda, tanpa alasan sibuk kerja, tanpa alasan tiada waktu karena mengejar prestasi.

Bersiaplah dari sekarang, agar kelak, ketika sang ayah dan ibu berkata jujur tentang kita dalam igauannya, beliau mengakui, kita memang layak menjadi jiwa yang diharapkan kedatangannya kapan pun juga.

Smoga mnjadi bahan renungan bagi kita semua.
Semoga bermanfaat (dr group sebelah)

Kisah Nyata Penderita Stroke

ODOJ-ku therapist-ku

Kisah ini kutulis dengan tanganku yang kiri. Keren kayak orang kidal, tapi sebenarnya aku sedang mendapat anugerah, dari Allah SWT, yang tak ternilai harganya. Pola hidup yang tidak sehat dan pola makan yang sembarangan membuat tumpukan kolesterol dan tekanan darah yang tinggi yang memicu stroke. Yah, separuh badanku lumpuh saat itu.

Beruntung, keluargaku selalu mendukung kesembuhanku. Isteriku dan dua anak laki-lakiku membuatku selalu semangat untuk memerangi sakitku ini. Isteriku selalu mengingatkan bahwa anak-anak masih kecil dan butuh kasih sayang ayahnya. Mulai saat itu aku selalu ingin mengikuti tumbuh kembang mereka.

Dua tahun sudah aku menjalani hari-hariku dengan separuh anggota badanku. Tangan dan kaki kananku belum sepenuhnya berfungsi. Tapi tangan lemah itu pernah menyentuh hajar aswad dan kaki pincang itu pernah mengelilingi ka'bah tanpa lelah. Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya, ternyata tahun 2013 bisa menunaikan ibadah umroh. Kalau menabungpun, mungkin aku perlu puluhan tahun untuk membayar biayanya. Namun Allah SWT telah memilih orang untuk membiayai umrohku. Gratis. Itulah kenapa saya menyebut sakit ini sebagai anugerah, karena hadiah demi hadiah berdatangan tiap tahunnya.

 Di tahun 2014, Allah mempertemukanku dengan komunitas ODOJ. Ya, aku terdaftar jadi anggota ODOJ 209 tahun ini. Disinilah terbuka kembali getaran getaran hidup. Di komunitas inilah aku mendapatkan teman yang menjadi saudara sehati dan seiman. Saling tolong menolong, bantu membantu terjadi disini, tanpa didasari kepentingan dunia. Bahasa yang digunakan pasti dengari  bahasa yang halus lembut tidak menyakitkan. Mulai dari admin sampai dua puluh sembilan anggotanya santun. Aku pernah bertanya dalam hati, apakah ini surga dunia yang diberikan Allah kepadaku?.

ODOJ adalah hadiah besar dari Allah SWT di tahun ini. Istri dan anakku yang pertama juga sudah masuk dalam komunitas ini. Aku di ODOJ 209, istriku ODOJ 2630 dan anakku ODOLKIDS 1.  Bahkan saat menulis inipun saya baru saja diterima admin di ODALF oleh Mas Karyadi, pengurus ODOJ. Alhamdulillah. Itu semua karena sekeluarga memiliki ketenangan jiwa dan kemantapan dengan membaca Alquran setiap hari. Bahkan yang kami rasakan sekarang ada yang kurang dalam hidup kami jika tidak membaca Al Quran.

Awalnya, aku butuh penyesuaian untuk menyelesaikan satu juz. Terkadang ada saja kegiatan yang menghalangi tilawah alquran. Tetapi saya termotivasi oleh istri yang juga ngikut ODOJ, istriku bisa mengapa saya tidak. Padahal istriku disela sela pekerjaannya yang menumpuk dari bangun tidur sampai tidur lagi saja bisa menyelesaiakan juznya, dibandigkan aku yang tidak bekerja malah  tidak selesai. Dari sini aku mulai berniat menyelesaikan juz di ODOJ, walaupun jangkanya  lebih dari yang ditentukan. Perasaan saya diwaktu khatam pertama jus 17, tak bisa dibayangkan dengan kata kata. Yang ada hanya ucapan alhamdulillah ternyata Allah meridhoi niat ku. Dan disinilah hatiku  bisa merasakan dan membedakan  yang termasuk ajakan ma'ruf  ataupun munkar dengan mengikuti ataupun menolak.

Hemiplegia kanan membuat tangan kananku kesulitan untuk mengedit daftar tugas tilawah di grupku. Saat menjadi PJH, beberapa kritikan sempat terlontar dari teman-teman. Karena harus menggunakan tangan kiri untuk mengedit daftar tilawah, sehingga banyak kesalahan yang aku lakukan. Terus terang aku kewalahan untuk melakukan update tilawah. Namun ketika  aku sampaikan tentang keterbatasanku, alhamdulillah, teman-teman memahami hal itu. Sekarang, bahkan aku berani melamar menjadi admin ODALF dengan modal tangan kiriku.

Selain gerak motorik yang terbatas, aku juga mengalami afasia. Semacam gangguan bahasa. Aku selalu kesulitan dalam mengungkapkan dan melafalkan kalimat yang ada di pikiranku. ODOJ merupakan therapist-ku. ODOJ melatih apa  yang dilihat dimasukkan dalam hati dan pikiran lalu dikeluarkan dengan kalimat yang tajwidnya benar. Ini efektif untuk berlatih bicara dalam waktu tertentu dan dilakukan setiap hari. Keuntungan yang aku peroleh adalah lancer berbicara dan mendapat pahala dari Allah SWT. Dua kebaikan sekaligus. Alhamdulillah sekarang sudah bisa bicara dengan tutur kata yang lebih tersusun rapi dari sebelumnya.

Penglihatanku juga menurun karena deficits after stroke. Tantangan tersendiri ketika harus membaca dalam waktu yang lama. Karena setelah serangan stroke, huruf-huruf yang aku lihat seperti berkumpul jadi satu, sehingga aku kesulitan untuk membaca. Namun memasuki bulan ketiga di ODOJ, mataku mulai terbiasa membaca huruf-huruf hijaiyyah itu.

ODOJ juga mempertemukanku dengan beberapa orang-orang istimewa. Saat acara grand launching ODOJ, aku bertemu dengan anak muda yang selalu membaca Alquran dan bertemu dengan Pak Tanjung, anggota grupku, yang ternyata sudah berusia lanjut. Dialah yang selalu menyelesaikan bacaannya di sepertiga malam terakhir. Sempat terlintas dalam hati, andai masa mudaku seperti anak muda itu dan andai masa tuaku seperti orang tua itu, maka kebahagiaan dunia akhirat akan aku dapatkan.

Teman temanku dahulu sewaktu SMA juga reuni dibawah payung ODOJ. Semua berkumpul tanpa perbedaan paham, asyik sekali berbincang satu hal Alquran. Bahkan dengan semangat yang tinggi merayu teman teman dengan kalimat "ayo siapa berani daftar ODOJ silahkan kirim nama dan no hp, tanpa biaya alias gratis dapat piala dari Allah SWT dan menambah ukhuwah". Akhirnya banyak teman temanku yang bergabung di ODOJ.

Penderita stroke karena hipertensi, sangat sensitif dan mudah marah. Begitu pula aku. Tapi ODOJ melatihku menjadi orang yang sabar dan ikhlas. Mungkin kalau ada yang setiap saat mengukur tensiku, dua bulan ini selalu pada batas normal. Kesabaran dan keihlasanku itu pernah diuji. Seorang kenalan menawari pekerjaan di sebuah perusahaan otomotif. Dia meyakinkan bahwa perusahaan menerima keterbatasan fisikku. Tanpa berpikir panjang, akupun mengiyakan dan memberikan sejumlah uang yang menjadi persyaratan masuknya. Seluruh persyaratan aku serahkan kepadanya, dengan kepercayaan penuh. Beberapa hari kemudian dia menghilang dan tidak pernah menghubungiku sama sekali. Akupun sadar, aku telah tertipu. Namun anehnya, tidak ada perasaan dendam atau marah, seperti biasa yang aku rasakan sebagai penderita hippertensi.  Al Quran  yang aku baca hari itu seperti sihir pelunak hati dan pikiran.

Itulah hadiah terbesar dari Allah SWT tahun ini. ODOJ telah menjadi therapist fisik dan psikisku. Akupun merasakan kesembuhan itu. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi penderita stroke yang lain untuk menjadi alternatif pendorong kesembuhan dan semangat untuk hidup. Bagi teman-teman yang sehat, berbahagialah anda punya mata yang sehat, tangan yang lengkap dan mental yang sehat untuk memaksimalkan tilawah. Tetap semangat dan tetap sehat. Terima kasih, ODOJ-ku therapist-ku.

 
Penulis,

Moh Nanang Safi'I (ODOJ 209)

Minggu, 19 Oktober 2014

Masalah

Hidup ini tak lekang dengan masalah, silih berganti masalah selalu datang menghampiri, selesai masalah satu muncul masalah yg lain, dan semua itu berputar seakan2 tiada titik akhir.
Tetapi pernahkah kita sejenak merenung, berfikir, dan bertafakur tentang apa itu "masalah" ?
Pernahkah kita menarik pelajaran berharga atau menarik hikmah kehidupan dari banyaknya masalah yg kita hadapi?
Pernahkah kita bertanya kepada Allah kenapa Masalah itu selalu ada untuk kita ?
Atau justru kita mencoba lari dari masalah, pura2 mengaburkannya, atau justru menyerah pada masalah itu ?

Jika hal itu yg terjadi kepada engkau, sungguh apakah engkau telah melupakan ayat2 Allah yg mengabarkan tentang indahnya menghadapi kesulitan/masalah.

Apakah tidak pernah engkau membaca ayat2-Nya, yang selalu mengatakan bahwa "sesungguhnya disetiap kesulitan selalu ada kemudahan, bahwa disetiap permasalahan kehidupan akan ada selalu solusi".

Sungguh jika benar yg terjadi pada dirimu bahwasanya engkau telah melupakan ayat2 Tuhanmu itu, maka bersegeralah beristighfar, memohon ampun engkau kepada-Nya.

Jika engkau sedang berada dalam masalah, jika engkau sedang dirundung kesulitan, jika engkau merasa begitu banyaknya problematika kehidupan yg engkau rasakan, maka kunci untuk menyelesaikan semuanya adalah datanglah kembali engkau kepada Allah Tuhanmu.

Datanglah engkau kepadaNya, berkeluh kesahlah, dan berdoalah karena sesungguhnya Allah menyukai hamba2nya yg berdoa dan berpasrah diri kepadaNya.

"Dan apabila hamba2ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang2 yg berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah2Ku), dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran". ( QS.2:186)

Apa susahnya diri kita untuk datang kepadaNya, berkeluh kesah, dan berdoa memohon kepadaNya.
Bukankah setiap masalah yg terjadi kepada diri kita semua ini hanya bisa terjadi karena telah diizinkan olehNya. Atau masihkah kita terus meyakini dan mengatakan bahwa masalah itu Besar.
Kenapa tidak pernah kita ini mengatakan "Wahai Masalah bukan engkau yang Besar, tetapi Allahlah yang Maha Besar".
Ingatlah saudaraku apapun masalahnya hanya dengan mendekat dan mengingat Allahlah engkau akan menjadi tenang.

"Hanya dengan mengingat Allahlah hatimu akan menjadi tenang". (QS. Ar. Rad :28).

Doa adalah kunci dari penyelesaian setiap masalah. Dengan doa engkau bisa melepaskan kepenatan hatimu, melepaskan rasa was2 dan keraguanmu, dan dengan doa engkau akan meyakini dan menyadari bahwa betapa butuhnya diri ini akan keberadaan Allah Tuhanmu.

Mendekatlah, menangislah, berkeluh kesahlah, engkau kepada Allah tentang masalah2mu , lalu berdoalah maka Allah akan mengabulkan doa2 dan pengharapanmu.

Salam FULL Semangat .... !!!

Agus Heru Pitoyo

PSDM/TM/37/20/10/2014

ODOJ#482

Jumat, 17 Oktober 2014

a man called zoro



A man made a promise.. 
a man swore to be the best.. 
a man with ambition ..   
a man seeks revenge..   
a man cuts what he wills … 
a man turned into a devil .. 
a man chose to sacrifice ..   
a man that experienced hell ..   
a man refused to lose ..


Kamis, 16 Oktober 2014

Mutiara di balik Ujian

Semua fenomena apapun yang dapat mendekatkan seorang hamba kapada Allah adalah karunia sedangkan semua fenomena apapun yang dapat menjauhkan seorang hamba kepada Allah, sesungguhnya itulah  musibah yang nyata

Namun pernahkah kita berpikir bahwa semua kejadian baik dan buruk yang Allah tetapkan untuk kita merupakan bentuk sayang Nya yang tiada terhingga?

Pernahkah kita berpikir bahwa kejadian yang kita anggap buruk yang menimpa kita merupakan jawaban dari doa doa kita selama ini?

Sahabatku,
Ketika seorang mahasiswa berdoa kepada Allah agar nilai ujian skripsinya sempurna, Allah menhadirkan pembimbing yang sangat killer kapadanya..
namun Apa responnya?.Dia merasa sangat tertekan.

Ketika seorang hamba meminta agar ia istiqomah BerODOJ, Allah mempertemukannya dengan admin yang cukup sering menghubunginya ketika dia belum kholas tilawah dan mendekati limit

Ketika seorang hamba meminta agar diberikan pekerjaan yang mendatangkan keridhoaanNya, dia merasa sangat sedih ketika banyak lamaran yang Ia ajukannya ditolak

Ketika seorang suami menginginkan keluarganya menjadi keluarga dakwah yang sakinah mawaddah warahmah, Allah membukakan keburukan istrinya di hadapannya..

Seperti tebu yang di proses menjadi kristal gula yang sempurna, si tebu akan melewati proses penggilingan, pemurnian, dimana didalamnya akan melewati pemanasan tingkat tinggi dan di tambah dengan larutan asam sulfat dan bahan kimia lainnya untuk menghilangkan kotoran kotorannya, selanjutnya proses kristalisasi yang menghasilkan kristal gula.
Jawaban dari doa kita pun melalui proses yang serupa.. kadangkala kita harus melewati proses yang pahit, proses yang menyakitkan menuju kehidupan yang bahagia..

Sahabatku..
Berpikir positiflah kapadaNya karena pasti ada Mutiara di balik ujian, 
Karena Allah tahu yang terbaik untuk hambaNya..

Oleh: Ummu Zaheera

Rabu, 15 Oktober 2014

POHON KORMA

Ada kata2 bijak kuno yang mengatakan bahwa " orang benar akan bertunas seperti pohon korma "

Pohon korma lazim dijumpai di Timur Tengah. Dgn kondisi tanah yg kering, gersang, tandus & kerap dihantam badai gurun yg dahsyat, hanya pohon korma yg bisa bertahan hidup. Tak berlebihan kalau pohon korma dianggap sebagai pohon yg tahan banting.

Kekuatan pohon korma ada di akar2nya. Petani di Timur Tengah menanam biji korma ke dlm lubang pasir lalu ditutup dgn batu. Mengapa biji itu hrs ditutup batu ?  Ternyata, batu tsb memaksa pohon korma berjuang utk tumbuh ke atas. Justru krn pertumbuhan batang mengalami hambatan, hal tsb membuat pertumbuhan akar ke dlm tanah menjadi maksimal. Setelah akarnya menjadi kuat, barulah biji pohon korma itu bertumbuh ke atas, bahkan bisa menggulingkan batu yg menekan diatasnya.

"Ditekan dari atas, supaya bisa mengakar kuat ke bawah."

Bukankah itu prinsip kehidupan yg luar biasa ?

Sekarang kita tahu mengapa ALLAH kerapkali mengijinkan tekanan hidup datang. Bukan utk melemahkan & menghancurkan kita, sebaliknya ALLAH mengijinkan tekanan hidup itu utk membuat kita berakar makin kuat. Tak sekedar bertahan, tapi ada waktunya benih yg sdh mengakar kuat itu akan menjebol "batu masalah" yg selama ini menekan kita. Kita keluar menjadi pemenang kehidupan.

ALLAH mendesain kita seperti pohon korma. Sebab itu jadilah tangguh, kuat & tegar menghadapi beratnya kehidupan.

Milikilah cara pandang positif bahwa tekanan hidup tak akan pernah bisa melemahkan, justru tekanan hidup akan memunculkan kita menjadi pemenang2 kehidupan.

Sebait catatan nasihat
(Alm) Ustadz Rahmat Abdullah

Selasa, 14 Oktober 2014

Ketika Yang Halal Tercampur Yang Haram

Seseorang datang kepada Imam Syafi’i mengadukan tentang kesempitan hidup yang ia alami. Dia memberi tahukan bahwa ia bekerja sebagai orang upahan dengan gaji 5 dirham. Dan gaji itu tidak mencukupinya.

Namun anehnya, Imam Syafi’i justru menyuruh dia untuk menemui orang yang mengupahnya supaya mengurangi gajinya menjadi 4 dirham. Orang itu pergi melaksanakan perintah Imam Syafi’i sekalipun ia tidak paham apa maksud dari perintah itu.

Setelah berlalu beberapa lama orang itu datang lagi kepada Imam Syafi’i mengadukan tentang kehidupannya yang tidak ada kemajuan. Lalu Imam Syafi’i memerintahkannya untuk kembali menemui orang yang mengupahnya dan minta untuk mengurangi lagi gajinya menjadi 3 dirham. Orang itupun pergi melaksanakan anjuran Imam Syafi’i dengan perasaan sangat heran.

Setelah berlalu sekian hari orang itu kembali lagi menemui Imam Syafi’i dan berterima kasih atas nasehatnya. Ia menceritakan bahwa uang 3 dirham justru bisa menutupi seluruh kebutuhan hidupnya, bahkan hidupnya menjadi lapang. Ia menanyakan apa rahasia di balik itu semua?

Imam Syafi’i menjelaskan bahwa pekerjaan yang ia jalani itu tidak berhak mendapatkan upah lebih dari 3 dirham. Dan kelebihan 2 dirham itu telah mencabut keberkahan harta yang ia miliki ketika tercambur dengannya.

Lalu Imam Syafi’i membacakan sebuah sya’ir:

جمع الحرام على الحلال ليكثره
دخل الحرام على الحلال فبعثره

Dia kumpulkan yang haram dengan yang halal supaya ia menjadi banyak.

Yang harampun masuk ke dalam yang halal lalu ia merusaknya.

_____

Barangkali kisah ini bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita dalam bekerja. Jangan terlalu berharap gaji besar bila pekerjaan kita hanya sederhana. Dan jangan berbangga dulu mendapatkan gaji besar, padahal etos kerja sangat lemah atau tidak seimbang dengan gaji yang diterima.

Bila gaji yang kita terima tidak seimbang dengan kerja, artinya kita sudah menerima harta yang bukan hak kita. Itu semua akan menjadi penghalang keberkahan harta yang ada, dan mengakibatkan hisab yang berat di akhirat kelak.

Harta yang tidak berkah akan mendatangkan permasalahan hidup yang membuat kita susah, sekalipun bertaburkan benda-benda mewah dan serba lux. Uang banyak di bank tapi setiap hari cek-cok dengan istri. Anak-anak tidak mendatangkan kebahagiaan sekalipun jumlahnya banyak. Dengan teman dan jiran sekitar tidak ada yang baikan.

Kendaraan selalu bermasalah. Ketaatan kepada Allah semakin hari semakin melemah. Pikiran hanya dunia dan dunia. Harta dan harta. Penglihatan selalu kepada orang yang lebih dalam masalah dunia. Tidak pernah puas, sekalipun mulutnya melantunkan alhamdulillah tiap menit.

Kening selalu berkerut. Satu persatu penyakitpun datang menghampir. Akhirnya gaji yang besar habis untuk cek up ke dokter sana, periksa ke klinik sini. Tidak ada yang bisa di sisihkan untuk sedekah, infak dan amal-amal sosial demi tabungan masa depan di akhirat. Menjalin silaturrahim dengan sanak keluarga pun tidak. Semakin kelihatan mewah pelitnya juga semakin menjadi. Masa bodoh dengan segala kewajiban kepada Allah. Ada kesempatan untuk shalat ya syukur, tidak ada ya tidak masalah.

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk serius dalam bekerja dan itqan, hingga rezeki kita menjadi berkah dunia dan akhirat.
Amin..
#ODOJ482

Nasihat untuk anak

Andailah suatu hari anak sy bertanya "Abi,, abi ingin aku menjadi apa?."

Rasanya sy ingin menjawab pertanyaan anak sy itu dgn;

"Nak, abi tak bangga kau sekolah tinggi2, karena abi yakin kemulian tidak bisa dicapai oleh gelar sekolahan.

Namun tetap sekolahlah sebaiknya, setinggi-tingginya. Tunaikan hutang abi kepada kakek-nenekmu, yg mereka mungkin telah mengubur harapan akan keberhasilan abi."

"Nak, abi tak daya menuntutmu menjadi anak shalih. Karena abi sadar dan rasakan betapa payah dan sulitnya menuju itu.

Namun tetap berusahalah shalihkan lahir-batinmu, karena itu adalah satu2nya cara untuk menyemai generasi shalih anak-keturunanmu kelak."

"Nak, abi bersyukur kpd Allah atas hadirmu, sehatnya lahirmu dan sejuknya menatapmu.

Namun abi pun sangat 'bersyukur' kpdmu, jika kau mampu selalu sehatkan imanmu, halalkan makananmu dan menjaga kehormatanmu."

* * *

Anak bagi kita tentunya merupakan sebuah karunia tiada tara, namun karunia sesungguhnya adalah tatkala anak kita menggamit tangan kita menuju surga-Nya, dan memakaikan mahkota dari cahaya ke atas kepala kita.

Semua itu dapat terwujud hanya bila kita mampu 'mewariskan' iman yg kuat kpd anak2

===================

ustz Muh. Faudil Adzim

Sabtu, 27 September 2014

TOTALITAS BERQURBAN

��Ketika momentum Idul Adha memanggil setiap hati yang memiliki kepekaan sosial ... akankah hatiku menjadi bagian dari sejumlah hati yang tergerak untuk berqurban???

Qurban ... sebuah proses ibadah yang mencerminkan napak tilas keteladanan nabi Ibrahim a.s. yang rela mengorbankan putra tercintanya, Ismail a.s. Sedemikian besarnya kecintaan beliau pada Allah sehingga mampu mengorbankan anak yang telah ditunggunya selama lebih dari 90 tahun.

Subhanalloh ...
Adakah diriku ini mampu berqurban?
"Daging-daging (qurban) dan darahnya itu, sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhoan) Allah, tetapi ketaqwaanmulah yang dapat mencapainya. QS Al Hajj:37

Ya Allah ... dapatkah ku maknai sejatinya berqurban itu?
Saat cintaku pada-Mu mampu mengalahkan keangkuhanku.
Saat mahabbahku pada-Mu sanggup taklukkan hawa nafsu duniawi.
Saat hatiku bergembira membaca ayat-ayat cinta yang Kau kirimkan melalui kitab suci Al Qur'an.
Saat keseluruhan aktivitasku menjadi ibadah yang ditujukan hanya pada-Mu.
Saat keikhlasan akan ketetapan-Mu mewarnai hari-hari yang dijalani.
Saat mujahadah melandasi tiap ikhtiarku.
Saat totalitas menjadi pondasi atas semua tindakan pengorbananku.

Apalah arti nilai dari seekor kambing,seekor sapi atau hewan qurban lainnya ketika kita memahami bahwa realitas pengorbanan kita tersebut
mampu memberikan:
1. Senyum indah di hati yang jarang tersentuh kepedulian.
2. Kebahagiaan di jiwa-jiwa yang rindu jalinan silaturahmi kita.

Selamat ber-QURBAN saudaraku ...
Engkau masih diberi kesempatan di tahun ini ... Manfaatkanlah!
Mungkin Idul Adha tahun depan ... bukanlah menjadi milik kita lagi.
Bertindaklah ... menjadi setetes air yang menghilangkan kedahagaan.

Qurban kita ... dinanti mereka.
"Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertaqwa." QS Al Maidah:28
Semoga Allah menerima Qurban kita di tahun ini. Aamiin.

Salam FULL Semangat !!!

Lestari Kurniawati

PSDM/TM/34/28/09/2014

IBU

Ketika kita lapar, tangan ibu yang menyuapi. Ketika kita haus, tangan ibu yang memberi minuman. Ketika kita menangis, tangan ibu yang mengusap air mata. Ketika kita gembira, tangan ibu yang menadah syukur, memeluk kita erat dengan deraian air mata bahagia.

Ketika kita mandi, tangan ibu yang meratakan air ke seluruh badan, membersihkan segala kotoran. Ketika kita dilanda masalah, tangan ibu yang membelai duka sambil berkata, "Sabar nak, sabar ya sayang."

NAMUN,
Ketika ibu sudah tua dan kelaparan, tiada tangan dari anak yang menyuapi. Dengan tangan yang gemetar, ibu menyuapkan sendiri makanan ke mulutnya dengan linangan air mata. Ketika ibu sakit, dimana tangan anak yang ibu harapkan dapat merawat ibu yang sedang sakit?

Ketika nyawa ibu terpisah dari jasad. Ketika jenazah ibu hendak dimandikan, dimana tangan anak yang ibu harapkan untuk menyirami jenazah ibu untuk terakhir kali.

Tangan ibu, tangan ajaib. Sentuhan ibu, sentuhan kasih. Dapat membawa ke Surga Firdaus.

Senin, 22 September 2014

Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri

ODOJ Spirit Message (OSM)

Salam MANTAB MULIA, Bermanfaat, Bermartabat, Mulia ... !!,

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah As-Shahihah)

Itulah salah satu perintah Rasul kepada Pengikutnya.Perintah inilah yangg menjadikan dasar bagi kita kenapa kita harus menjadi Pribadi yg bermanfaat.

Menjadi pribadi bermanfaat adalah salah satu karakter yang harus dimiliki oleh seorang muslim.
Kita sebagai muslim lebih diperintahkan untuk memberikan dan menebarkan manfaat bagi org lain daripada harus mencari manfaat dari orang atau memanfaatkan orang lain.
Inilah bagian dari penerapan atau implemantasi kita sebagai muslim tentang konsep Berbagi atau memberi.

Apa-apa yang kita bagi atau kita berikan kepada orang lain pada dasarnya semua itu akan kembali kepada diri kita masing-masing. Bahkan kembalinya tidaklah sama dengan apa yg kita bagi atau beri tapi jauh melebihi apa yang telah kita keluarkan untuk berbagi.
Apalagi jika hal itu dilakukan kepada sesama sodara seiman.

"Siapa yg menyelesaikan kesulitan seorang muslim dari berbagai kesulitan dunia, maka Allah akan menyelesaikan kesulitannya di hari kiamat. Dan siapa yg memudahkan orang yg sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya kehidupan di dunia dan di akhirat (HR. Muslim)

Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri (QS. 17:7).

Itulah kenapa Rasul memerintahkan kepada kita semua untuk menebarkan sebanyak-banyaknya manfaat, karena semua bertujuan untuk kebaikan diri kita sendiri.

Dengan bergabung di komunitas ODOJ, anda telah menjadi bagian dari generasi penebar manfaat dalam membumikan Al-Qur'an dan melangitkan manusia, bersiap dan tunggulah bahwa semuanya akan dikembalikan oleh Allah dengan kehidupan yg penuh dengan keberkahan dan kemudahan.

Salam FULL Semangat .... ! ! !

Oleh Agus Heru Pitoyo

PSDM/TM/33/23/09/2014

Karena Ukuran Kita Tak Sama

(dalam Inspirasi. 02/04/2012)

Seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya..
memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti..
memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan...
Kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi...
~~~
Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.

Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,

“Masya Allah” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!”

Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab.

”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya,

“Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!”

Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras.

”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya. Aku takut Allah akan menanyakannya padaku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai ‘Utsman!” ’Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya bersiponggang menggema memenuhi lembah dan bukit di sekalian padang.

“Masuklah kemari!” seru ‘Utsman,“Akan kusuruh pembantuku menangkapnya untukmu!”.

”Tidak!”, balas ‘Umar, “Masuklah ‘Utsman! Masuklah!”

“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah unta itu akan kita dapatkan kembali.“

“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau hai ‘Utsman, anginnya makin keras, badai pasirnya mengganas!”

Angin makin kencang membawa butiran pasir membara. ‘Utsman pun masuk dan menutup pintu dangaunya. Dia bersandar dibaliknya & bergumam,

”Demi Allah, benarlah Dia & RasulNya. Engkau memang bagai Musa. Seorang yang kuat lagi terpercaya.”

‘Umar memang bukan ‘Utsman. Pun juga sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki.

‘Umar, jagoan yang biasa bergulat di Ukazh, tumbuh di tengah bani Makhzum nan keras & bani Adi nan jantan, kini memimpin kaum mukminin. Sifat-sifat itu –keras, jantan, tegas, tanggungjawab & ringan tangan turun gelanggang – dibawa ‘Umar, menjadi ciri khas kepemimpinannya.

‘Utsman, lelaki pemalu, anak tersayang kabilahnya, datang dari keluarga bani ‘Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman sentausa. ’Umar tahu itu. Maka tak dimintanya ‘Utsman ikut turun ke sengatan mentari bersamanya mengejar unta zakat yang melarikan diri. Tidak. Itu bukan kebiasaan ‘Utsman. Rasa malulah yang menjadi akhlaq cantiknya. Kehalusan budi perhiasannya. Kedermawanan yang jadi jiwanya. Andai ‘Utsman jadi menyuruh sahayanya mengejar unta zakat itu, sang budak pasti dibebaskan karena Allah & dibekalinya bertimbun dinar.

Itulah ‘Umar. Dan inilah ‘Utsman. Mereka berbeda.

Bagaimanapun, Anas ibn Malik bersaksi bahwa ‘Utsman berusaha keras meneladani sebagian perilaku mulia ‘Umar sejauh jangkauan dirinya. Hidup sederhana ketika menjabat sebagai Khalifah misalnya.

“Suatu hari aku melihat ‘Utsman berkhutbah di mimbar Nabi ShallaLlaahu ‘Alaihi wa Sallam di Masjid Nabawi,” kata Anas . “Aku menghitung tambalan di surban dan jubah ‘Utsman”, lanjut Anas, “Dan kutemukan tak kurang dari tiga puluh dua jahitan.”

Dalam Dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi.

Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat tulus pada saudara yang sedang diberi amanah memimpin umat. Tetapi jangan membebani dengan cara membandingkan dia terus-menerus kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat pada saudara yang tengah diamanahi kekayaan. Tetapi jangan membebaninya dengan cara menyebut-nyebut selalu kisah berinfaqnya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat saudara yang dianugerahi ilmu. Tapi jangan membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai bahasa Ibrani dalam empat belas hari.

Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat seperti tokoh lain pada masa yang berbeda. ‘Ali ibn Abi Thalib yang pernah diperlakukan begitu, punya jawaban yang telak dan lucu.

“Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan ‘Umar”, kata lelaki kepada ‘Ali, “Keadaannya begitu tentram, damai dan penuh berkah. Mengapa di masa kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaanya begini kacau dan rusak?”

“Sebab,” kata ‘Ali sambil tersenyum, “Pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar, rakyatnya seperti aku. Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”

Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan menuntut orang lain berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, 'Utsman atau ‘Ali.

Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’d ibn Abi Waqqash melakukan peran Abu Bakar, fahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti.

Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah.

Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.

Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima bahwa sudut pandang orang lain adalah juga sudut pandang yang absah. Sebagai sesama mukmin, perbedaan dalam hal-hal bukan asasi tak lagi terpisah sebagai “haq” dan “bathil”. Istilah yang tepat adalah “shawab” dan “khatha”.

Tempaan pengalaman yang tak serupa akan membuatnya lebih berlainan lagi antara satu dengan yang lain.

Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita pahami, itu tidak seharusnya membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya.

Imam Asy Syafi’i pernah menyatakan hal ini dengan indah. “Pendapatku ini benar,” ujar beliau, ”Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, namun bisa jadi mengandung kebenaran.”

sepenuh cinta..

Diambil dari buku 'Lapis2 Keberkahan', Salim A. Fillah

"Karena Ukuran Kita Tak Sama.."
Oleh Salim A. Fillah

Minggu, 21 September 2014

Kekuatan doa

Dunia ini bagai medan pertempuran...
maka tak ada salahnya kita mempersiapkan banyak 'senjata' untuk memenangkan pertempuran ini...

Dari berbagai macam 'senjata' yang tersedia, ada satu senjata yang saya kira sangat penting dan tidak boleh dilupakan.....Yaitu DOA

Dalam sirah nabawiyah, pada Kitab Ar-Rahiqul Makhtum karangan Syekh Mubarokfury..  -di sepenggal kisah perang badar-

Maka tak kala kesedihan dan tangis Rasulullah SAW memuncak dan kekalahan semakin tampak jelas di depan mata...

Beliau SAW berdoa ; ‘Ya Allah aku mengingatkan-Mu akan janji-Mu, Ya Allah jng Engkau meninggalkanku, Ya Allah jangan Engkau membiarkanku, Ya Allah jangan Engkau menyianyiakanku. 

Ya Allah ini adalah orang Qurais, mereka telah datang dengan kesombongan mereka. Mereka telah menentang dan menuduh bohong utusan-Mu. Ya Allah mana pertolongan-Mu yang Engkau janjikan.

Tak terbayangkan, betapa mengkhawatirkannya keadaan ketika itu, sampai2 beliau berdoa lagi:
"Ya Allah, jika pasukan ini hancur pada hari ini, tentu Engkau tidak akan disembah lagi. Ya Allah, kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk disembah untuk selamanya setelah hari ini."

Doa adalah senjata kaum muslimin..! doa bagai cahaya dalam gelap.!

Maka Allah menolong Rasulullah SAW dan memenangkan kaum muslimin dengan bantuan pasukan terbaik dari langit..
“Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kalian dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut " (Al-Anfal: 9)
------------------------------
------------------------------
Saudaraku..
Bagaimana pun gentingnya keadaan kita... 
senjata ini (doa) hendaklah selalu kita pegang erat...

Kegagalan dan keberhasilan bukan ada di tangan manusia, melainkan ada atas ijin dan kuasa Allah SWT. 

Dan pertolongan-Nya akan turun seiring dengan seberapa besar rasa ketergantungan kita pada-Nya.

TR/11/22/09/2014
ODOJ#482

Kekuatan Doa
Oleh: Hamzah

Sabtu, 20 September 2014

Wanita gaul & pemuda sholeh

Seorang wanita gaul bertanya pada seorang pemuda yang soleh:
Wanita: "Kenapa sih kamu nggak mau bersentuhan tangan denganku? Emangnya aku ini hina ya?"

Pemuda: "Bukan begitu Mba, Justru saya lakukan itu karena saya sangat menghargai Mba sebagai seorang wanita"

Wanita: "Maksudmu?"

Pemuda: "Coba saya tanya sama Mba, apakah boleh seorang rakyat jelata menyentuh tangan putri keraton yang dimuliakan?"

Wanita: (Sambil mengernyitkan dahi) "T..Tentu gak boleh sembarangan dong!"

Pemuda: "Nah, Islam mengajarkan bagaimana kami menghormati semua wanita layaknya ratu yang ceritakan tadi. Hanya pangeran saja yang layak menyentuh tuan putri".

Wanita: (Sambil agak malu) "Oh.. Terus kenapa sih mesti pakai menutup tubuh segala, pake kerudung lagi, jadi gak keliatan seksinya"

Pemuda : (Membuka sebuah rambutan, lalu memakannya sebagian. Dan mengambil sebuah lagi sambil menyodorkan 2 buah rambutan itu pada wanita tersebut) "Kalau Mba harus memilih, pilih rambutan yang sudah saya makan atau yang masih belum terbuka"

Wanita: (Sambil keheranan dan sedikit merasa jijik) "Hi.. Ya saya pilih yang masih utuh lah, mana mau saya makan bekas Mas".
Pemuda : (Sambil tersenyum) "Tepat sekali, semua orang pasti memilih yang utuh, bersih, terjaga begitu juga dengan wanita. Islam mensyariatkan wanita untuk berhijab dan menutup aurat semata-mata untuk kemuliaan wanita juga".

Wanita: "Terimakasih ya, aku semakin yakin untuk berhijab dan menutup aurat, Islam memang sangat memuliakan wanita. Subhanallah. Ngomong-ngomong Mas sudah punya pacar belum?"
Pemuda: "Mmm.. Saya belum punya dan bertekad tidak akan punya pacar."

Wanita : (Kebingungan) "Loh, kenapa? Bukannya semua muda-mudi sekarang punya temen istimewa"

Pemuda: "Begini Mba, kira-kira kalau Mba diberi hadiah handphone, ingin yang bekas atau yang masih baru??"

Wanita: "Ya jelas yang baru lah"

Pemuda: "Kalau suatu saat Mba menikah, mau pakai baju loakan yang harganya Rp.50.000/3 potong atau gaun istimewa yang harganya Rp.20 juta keatas"

Wanita: "Ih.. Mas ini. Ya pasti saya pilih gaun istimewa, mana mau saya pakai baju loakan, udah bekas dipegang orang, gak steril lagi. hi..."

Pemuda: "Nah, begitu juga Islam memandang pacaran Mba. Kami, diajarkan untuk menjunjung ikatan suci bernama pernikahan. menjadi pasangan yang saling mencintai karenaNya. Yang menjaga kesucian dan kehormatan dirinya sebelum akad suci itu terucap. Karena kami hanya ingin mempersembahkan yang terbaik untuk pasangan kami kelak"

Wanita: (Hatinya berdebar-debar tak menentu, kata-kata pemuda tadi menjadi embun bagi hatinya yang selama ini hampa. Matanya pun menetes) "Mas, aku semakin merasa banyak dosa. Masihkah ada pintu taubat untukku dengan semua yang sudah aku lakukan?"

Pemuda: (Matanya berbinar, perkataannya berat) "Mba, jikalah diibaratkan seorang musafir kehilangan unta beserta makanan dan minumannya di gurun pasir yang tandus. Maka kebahagiaan Allah menerima taubat hambanya lebih besar dari kebahagiaan musafir yang menemukan untanya kembali. Kalaulah kita datang dengan membawa dosa seluas langit, Allah akan mendatangi kita dengan ampunan sebesar itu juga. Subhanallah".

Wanita: (Berderai air matanya, segera ia usap dengan tisunya) "Terimakasih Mas, saya banyak mendapatkan pencerahan hidup. Semoga saya bisa berubah lebih baik”

Pemuda: “Amin”

*Boleh di-SHARE. Moga menyadarkan

Setia Furqon Kholid

ODOJ#482

Jumat, 19 September 2014

Untuk para ODOJers

Dari Ustadz Farid Nu'man Hasan, S.S

Untuk para ODOJers

"Alangkah indahnya nasihat Al Imam Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullah: “Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya` sedangkan beramal karena manusia adalah kesyirikan, adapun yang namanya ikhlash adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.” (Ucapan ini tersebar dalam banyak kitab, seperti Minhajul Qashidin-nya Imam Ibnu Qudamah, Tazkiyatun Nufuus-nya Imam Ibnu Rajab, dll).

Janganlah kalian batalkan amal shalih itu karena komentar miring manusia, dan jangan pula kalian lakukan karena mengharapkan ridha manusia, tetaplah beramal, dan jangan pernah pikirkan semua komentar yang membuat hati kalian guncang. Urusan kalian adalah kepada Allah Ta’ala bukan dengan mereka. Sibukkanlah hati kalian denganNya, biarlah mereka sibuk menyelediki hati kalian, sehingga mereka lupa dengan hatinya sendiri. Sebab di akhirat nanti kullu nafsimbima kasabat rahiinah (setiap jiwa bertanggung jawab atas perbuatannya masing-masing). Memintalah kepada Allah Ta’ala agar tetap dijaga dan selamatkan dari riya dan kesyirikan dalam beramal."

Sumber: Fanspage Ustadz Farid Nu'man Hasan, S.s

Tidak mau sholat

SUNGGUH HERAN..!

Sungguh heran..
Ada yg tdk mau sholat..
Padahal iblis diusir dari surga krn tdk mau sujud 1x krn kesombongannya..
Lantas bagaimana dgn org yg tdk mau sujud 34x dalam sehari dgn sombongnya..

Sungguh heran..
Ada org yg sombong dan sangat berbangga diri dgn segala yg ada pada dirinya..
Padahal kemarin dia adalah air mani dan esok akan menjadi bangkai..

Sungguh heran..
Ada yg menutupi mobilnya krn takut lecet dan berdebu..
Tp membiarkan anak istrinya terbuka tanpa hijab..

Sungguh heran..
Ada yg pergi pagi pulang malam utk mengejar rizkinya..
Tp tdk pernah datang ke 'rumah' Sang pemberi rizki utk berjamaah..

Sungguh heran..
Ada yg berjuang mati2an utk membangun rumah di dunia..
Tp ia lupa membangun rumah abadinya di akherat..

Sungguh heran..
Dia tau pasti jika dunia ini adalah jembatan menuju akherat..
Tp ia masih saja sibuk membangun istana di atas jembatan..

Ketahuilah saudaraku..
Sungguh engkau pasti mati..
Setelah itu rumahmu bukan lg milikmu..
Hartamu menjadi milik ahlimu..

Lantas engkau..
Apa yg sekarang terjadi dgnmu?
Apa yg tersisa dr milikmu?
Amalan apa yg telah engkau bawa menghadap Rabb-mu?

Menyesal..??
Skrg mengharap dimasukkan surga..tanpa bekal??
Skrg berharap sangat dibebaskan dr hisab dan adzab..tanpa amal??

Sungguh engkau telah TERLAMBAT..
Sungguh engkau telah TERTIPU..
Sungguh engkau telah BINASA..
Dan tinggallah sendiri menanggung dosa dan kesalahan yang tak termaafkan.

"...Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang2 yg bodoh, tetapi mereka tidak tahu." ﴾al-Baqarah, 13)

"(yaitu) org2 yg menjadikan agama mereka sebagai main2 dan senda gurau..DAN KEHIDUPAN DUNIA TELAH MENIPU MEREKA".
Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dgn hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat2 Kami." ﴾al A'raf, 51﴿

» Ampuni kami ya Allah, kami telah lalai... (Copas dari ust Abdul Aziz, trainner sholat khusyuk)

Kamis, 18 September 2014

Dibutuhkan mata hati. Tidak sekedar mata kepala

Shobaahul Khoir..

Suatu ketika Abdullah bin Mas'ud melihat garis garis tikar di pipi Rosululloh, menagislah ia, dan berucap...
"Ya Rosululloh aku teringat kemewahan para kaisar Persia dan Romawi,mereka tidur diatas hamparan sutra yg lembut." Itulah yg membuatnya menangis.

Rasululloh yg mulia yg menerima wahyu dari langit tidur di ruang sempit dg alas tikar kasar, sedang pembesar kafir Persia dan Roma tidur dg segala kemewahan.

Rosululloh pun lalu berkata, "Tidakkah engkau rela mereka memiliki dunia sedangkan kita memiliki akhirat?"
Rosululloh itu tidak miskin, tapi hidup beliau memberi tauladan pd kita bahwa di dunia ini bila kita mengukur hidup dgn timbangan dunia, akan banyak hal hal yg
sangat menyesakkan.

Ada penjahat yg berteriak seolah manusia suci, ada keadilan yg hanya berpihak pada yg kaya.
Maka gemerlap dunia membutuhkan penyikapan yg arif, tdk menggunakan sisi kemanusiaan semata.

Dibutuhkan mata hati tdk sekedar mata kepala. Dibutuhkan ketajaman iman tidak semata kalkulasi duniawi.

Tidak mudah menerima "ketimpangan" itu lalu membaliknya menjadi penghibur hati dan penyubur iman, sebab kuncinya terletak pada kemampuan memandang dg hati.

ODOJ#482

Rabu, 17 September 2014

Tilawah

Sebuah Renungan
(Smg bermanfaat)                      
Pekerjaan dan jabatan bagus yang didapatkan bukanlah karena otak kita yang pintar, tapi karena izin Allah. Sepintar apapun kita, jika Allah berkata tidak maka tak kan bisa kita bekerja.
Bisa membeli segala yang kita inginkan bukanlah karena uang kita yang banyak tapi karena izin Allah. Sekaya apapun kita, jika Allah katakan tidak, kita tak kan mampu membeli apapun.
Apapun yang kita miliki sekarang, jika bukan karena izin Allah maka semua takkan ada.
Usahakan Allah selalu hadir dalam setiap kehidupan kita (ibadah), bukan hanya karena ingin izin NYA tapi juga krna Ridho dan Jaminan NYA.

Ibadah ibarat membayar premi asuransi, makin banyak premi yang dibayarkan, maka makin besar jaminannya.
Jaminan kemudahan urusan, jaminan rezeki, jaminan ampunan bahkan bi idznillaah, jaminan surga. In syaa Allah.
Tidak inginkah kita mendapatkan jaminan NYA?
Jika iya, kenapa masih saja menunda-nunda segala ibadah?
Jika iya, kenapa masih sombong dengan dunia?
Jika iya, kenapa masih disibukkan dengan pekerjaan?

"Afwan, hari ini tidak tilawah tidak ada sinyal."
Kata Allah..
Hari ini permintaan kamu di tunda dulu yah, sinyalnya putus-putus tidak jelas. Masih banyak hamba KU yang berusaha mencari 'sinyal' untuk berkomunikasi dengan KU.

"Afwan, hari ini sibuk banget tidak sempat tilawah."
Kata Allah..
Silakan kamu cari jalan keluar mu sendiri, masih banyak hamba KU yang lebih sibuk mencari KU agar urusannya dimudahkan.

"Afwan, juz saya dilelang dulu yah. Saya pulang kerja, urus anak, urus suami, sudah lelah dan tidur."
Kata Allah..
Sayang sekali, baru saja AKU ingin mengabulkan permintaanmu. Kalau begitu permintaanmu AKU lelang dulu kepada yang lebih sibuk meminta dan beribadah padaku.

"Afwan saya sedang ada masalah, afwan saya sedang tidak enak badan, afwan.. Afwan.. Afwan.."
Ahh, lupa kah kita jika tilawah adalah obat segala penyakit?

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلاَ يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّ خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian.” (Al-Isra`: 82)

Sungguh, rugi waktu yang kita lewati hanya karena keduniaan.
Jika kita bisa banting tulang bekerja mencari rezeki, kenapa tidak bisa banting tulang untuk ibadah?

Allah dulu, Allah lagi, Allah terus...
Ibadah, ibadah, ibadah kemudian usaha..

Semua terjadi atas izin Allah. Maka, minta izin dulu kepada yang Maha Memiliki, Maha Kaya.
Jangan berikan Allah sisa waktu kita. Nanti Allah kasih rezekinya sisa-sisa.

Yakinlah, yakin ibadah tak kan mengurangi waktu kita berkarya di dunia.
Yakinlah, yakin jika Allah telah meberi izin dan Ridho NYA, in syaa Allah semua akan dimudahkan.
Yakinlah, yakin semakin besar premi yang kita berikan, makin besar pula jaminan yang kita dapatkan.
Yakinlah, yakin. Agar Allah pun yakin kita siap menerima permintaan dan keinginan kita.

ODOJ#482

Senin, 15 September 2014

Sakitnya tuh dimana?

Dah brp bulan berlalu...
Sudah nampak sekarang penampakan wajah mu dan wajahya di layar smartphone ku wkwkwk
Penampakan horor yang begitu menyiksa...
Heran memang tapi ya namanya perasaan juga gk bisa bohong..
Aku terlalu sulit melupakanmu..
Menyesal? Hmm bisa iya bisa enggak..
Iya nya ya sayang banget ya.. dah dalem banget soalnya nih...
Trs gk menyesalnya ya nih akirnya krn penampakan jadi tau dah keputusan tepat yg aku pilih heheh
Biarlah aku wae sing ngenes...
Daripada bersama tp ngenes, mending ya berpisah tp juga sama sama ngenes wkwkwk krn dimainin itu emang gk enak rasanya hahaha.. ngenes brooo
Berbahagialah ...
Bersenang senanglah ...
karena Tuhan Maha Asyik ...
Hahahahah

Minggu, 14 September 2014

Wanita booking tempat di neraka

MUSIM panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi Muslimah untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan etika. Namun berbeda dengan musim dingin. Dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa terjaga.

Jilbab memang memiliki multifungsi. Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, dari Kairo ke Alexandria; Di sebuah mikrobus, ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat. Karena menantang kesopanan, ia duduk di ujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang “perhatian” kalau bisa dibahasakan sebagai “keprihatinan sosial.”

Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk di sampingnya mengingatkan bahwapakaian yang dikenakannya bisa mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi dirinya sendiri. Disamping itu, pakaian tersebut juga melanggar aturan agama dannorma kesopanan. Orang tua itu bicara agak hati-hati, pelan-pelan,sebagaimana seorang bapak menasehati anaknya sendiri

Apa respon perempuan muda tersebut?

Rupanya dia tersinggung, lalu ia ekspresikan kemarahannya karena merasa hak privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang.

“Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!”

Sebuah respon yang sangat frontal. Orang tua berjanggut itu hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah. Penumpang lain yang mendengar kemarahan si wanita ikut kaget, lalu terdiam.

Detik-detik berikutnya, suasana begitu senyap. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpi, tak terkecuali perempuan muda itu. Lalu sampailah perjalanan di penghujung tujuan. Di terminal terakhir mikrobus Alexandria.

Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun, tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat tidur pulas. Karena posisi tidurnya berada dekat pintu keluar. “Bangunkan saja!” Kata seorang penumpang. “Iya, bangunkan saja!” Teriak yang lainnya. Gadis itu tetap bungkam, tiada bergeming.Salah seorang penumpang lain yang tadi duduk di dekatnya, mendekati si wanita dan menggerak-gerakkan tubuh si gadis agar posisinya berpindah. Namun, Astaghfirullah! Apakah yang terjadi? Perempuan muda tersebut benar-benar tidak bangun lagi. Ia menemui ajalnya dalam keadaan memesan neraka. Kontan seisi mikrobus berucap istighfar.Kalimat tauhid serta menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk di sampingnya. Ada pula yang histeris meneriakkan kalimah Allahu Akbar dengan linangan air mata.

Sebuah akhir yg menakutkan. Mati dalam keadaan menantang Allah SWT, memesan neraka-Nya.Seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya.Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat.Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang buruk.Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah.Sungguh Allah masih menyayangi kita. Yang masih terus dibimbing-Nya. Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat dengan-Nya agar semakin dekat. Dan bagi mereka yang terlena, seharusnya segera sadar, mumpung kesempatan masih terbuka di sisa usia yang masih ada.Apakah booking tempatya terpenuhi di alam sana? Wallahu a’lam. []

Oleh : Mahfudin Arsyad

Sumber : Islampos

Sabtu, 13 September 2014

Cara Masuk Surga Sekeluarga...


Quote By Ustadz Bachtiar Nasir

1. Coba suatu hari ingatkan seluruh anggota keluarga begini; "Kita kerjasama agar masuk surga sekeluarga yuk?"

2. Bagaimana caranya?. Lihat surat Ath Thur 25-26. Para penghuni Surga membocorkan rahasianya bagaimana cara masuk Surga sekeluarga.Mau tau?

3. Ceritanya penghuni Surga saling bercengkrama berhadap2an, masing2 bertanya jawab bagaimana keluarga kalian dulu?, koq bisa masuk Surga?,

4. Jawabnya seragam; "Kami bisa masuk Surga krn dulu di Dunia, dikeluarga kami saling mengingatkan satu sama lain ttg siksa pedih Neraka".

5. Karenanya Visi rumah tangga orang beriman adalah; "Peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa Neraka, (At Tahrim; 6). Ya Rabb, bagus!.

6. Rumahku Surgaku, akan terjadi jika masing2 anggota keluarga memelihara dirinya & mengingatkan anggota keluarga lainnya dari siksa Neraka.

7. Siapa yang tak sedih jika ada salah seorg anggota keluarganya (ayah, ibu, kakak atau adik) terjerumus ke lingkungan siksa "Neraka"?.

8. Setiap anggota keluarga pasti sangat sedih jika Bahtera Keluarga pecah dan karam akibat terpaan gelombang kehidupan dunia yang mematikan.

9. Agar masuk Surga sekeluarga, ingatkan anggota keluarga kita yang sdg khilaf berbuat dosa atau lalaikan perintah Allah, jgn dibiarkan.

10. Jgn kecewa kalau peringatan kita diabaikan, atau malah dilecehkan, karena dakwah di tengah keluarga kadang lebih berat, jgn lupa doakan.

11. Nabi Nuh as tak pernah bosan mengingatkan anaknya yg tersesat, Nuh as terus mendoakannya sampai akhirnya Allah tenggelamkan Kan'an.

12. Nabi Luth as tak pernah berhenti memperingatkan isterinya yg membangkang, sampai akhirnya Allah binasakan isterinya bersama kaum Sodom.

13. Asiah binti Muzahim, tertatih2 peringatkan suaminya Fir'aun, konsisten mendidik Masyithah & Musa as, akhirnya Asiah yg dibunuh Fir'aun.

14. Habil tak pernah takut mengingatkan dan menasehati kakaknya Qabil, rasa iri dan dengki berkecamuk sampai akhirnya Habil dibunuh Qabil.

15. Agar bisa masuk Surga sekeluarga perlu perjuangan dan pengorbanan yg besar, selain itu kesabaran dan konsistensi juga harus dilakukan.

16. Ingatkan suami agar bekerja ditempat yang halal, jgn bawa plg penghasilan yg haram, krn akan jadi bahan bakar neraka Rumah Tangga.

17. Ingatkan isteri agar memperhatikan Pola Konsumsi Halal utk keluarga, anak2 akan susah diajak taat dan ibadah jika mengkonsumsi yg haram.

18. Ingatkan anak2 bahwa bahan bakar Neraka adalah Batu dan Manusia, jangan sampai salah seorang dari kita jadi bahan bakarnya Neraka.

19. Ceritakan bhw penjaga Neraka adlh Para Malaikat Perkasa Yg kuat & kasar, mrk tak pernah khianati Allah & pasti laksanakan perintahNYA.

#ODOJ482

Kamis, 11 September 2014

Kesuksesan hari ini adalah Eksistensi hari esok.

��Janganlah meminta Allah untuk meringankan beban, tapi mintalah Allah untuk menguatkan pundakmu. Dalam kesakitan teruji kesabaran, dalam perjuangan teruji keikhlasan."

��Janganlah meminta pada Allah utk meratakan jalan akan kita lalui, tapi mintalah pada Allah untuk memberi kita sepatu yg kuat dan kaki yg sehat untuk menapaki terjalnya jalan yg ada di hadapan kita.

��Janganlah selaluu meminta redanya hujan namun pakailah payung untuk menembus derasnya hujan, hingga sampailah kita pada tujuan.

��Janganlah selalu berharap untuk disayangi namun siapkan juga ruang di hati untuk tersakiti. Olah rasa itu hingga jadi sebuah energi tuk meraih cita-cita yang tinggi. Bersua dg Ilahi Rabbi.

��Hold on Dear Believer, be strong and learn to be patient! Don't be sad, and don't get discouraged and don't stop trying hard to succeed and progress, or to weaken your resolve or become frustrated due to the criticism of the envious and the slander of those with ulterior motives!

~Rochma Yulika~

#ODOJ
Tradera/TR/07/11/09/2014

Senin, 08 September 2014

Gagal?

Kita semua pernah gagal, tidak terkecuali para nabi. Rasulullah pernah gagal dalam memenangkan perang Uhud, demikian juga kegagalan pernah menimpa Nabi Adam, beliau gagal mempertahankan eksistensinya di Syurga...

Sahabat...
Apakah dengan gagal akan hancur seluruh kehidupan kita? Tentu Tidak ! Kita harus merubah kegagalan menjadi batu loncatan meraih kesuksesan..

"Lihatlah orang yang dibawahmu, dan jangan melihat orang yang di atasmu, karena demikian itu lebih tepat, supaya kamu tidak meremehkan nikmat karunia Allah kepadamu " (H.R. Bukhari-Muslim)

Bangkit dan obati kegagalan kita dengan banyak bersyukur, optimis, banyak memohon pertolongan kepada Allah, Takwa dengan sebaik-baik ketakwaan,tekun dalam beribadah, ikhtiar secara maksimal serta harus berani untuk bangkit lagi...

Allah lah yang mengetahui baik buruknya sesuatu bagi kita, bukan diri kita dan bukan juga manusia.

Salam FULL Semangat !!!

Yekti Nunihartini ~ Kadiv. Training Motivasi ODOJ

PSDM/TM/28/9/9/2014

Minggu, 07 September 2014

Berhenti pada kata ingin saja

Sesungguhnya pemenang kehidupan adalah orang yang tetap semangat meski kelelahan senantiasa hadir dalam kehidupan nyata. Tetap tegar dalam setiap ujian yang menyapa. Tetap teguh meski godaan tak henti menyesakan dada.

Kenyataannya, terlampau banyak kisah hidup yang memilukan bermula dari cara kita yang salah dalam menata hati. Oleh karena itu, menata hati adalah cara kita dalam menyiasati kehidupan. Menyiasati berbagai kondisi kehidupan agar tetap dalam keadaan lebih baik. Dan kunci dalam menata hati adalah iman dan positif thinking.

Maka sudah saatnya kita bertanya pada hati kita masing-masing? Di bagian mana dalam kehidupan ini, dalam kesibukan yang melelahkan; dalam hari-hari yang penuh langkah perjuangan; dalam pergolakan cinta dan kebencian; dalam kesunyian dan keramaian; di antara kegembiraan dan kesedihan; di antara ketenangan dan kegelisahan; di antara ritme keagamaan dan keduniaan; di antara berbagai lintasan ujian dan harapan; di antara kearifan melihat zaman; di antara tugas dan amanat menjalankan jabatan, saatnya bertanya, di mana hati ini kita posisikan?

Sebagus dan seindah apa pun bentuk manusia, hanya akan membawa kehinaan bila tidak disertai dengan keindahan hati yang dihiasi iman dan amal shalih.

Penentu baik dan buruknya amalan seseorang amat bergantung kepada hati. Seperti yang digambarkan baginda Rasulullah Saw, “Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh ini ada segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.” (H.r. Bukhari Muslim)

Dengan menata hati, berarti kita tengah menata kehidupan ini. Hati menjadi penentu atas segala keputusan yang kita ambil karena di sanalah niat terletak. Banyak orang yang ingin mengubah hidupnya, tetapi hanya tinggal keinginan. Berhenti pada kata ingin saja. Tidak pernah sukses karena orang sukses adalah mereka yang selalu berbuat. Kalau kita ingin mengubah hidup kita menjadi lebih dari yang kita impikan, kita harus mengubah tindakan kita sampai menjadi kebiasaan.
(Disarikan dari Buku Menjadi Lebih Baik Agar Ditolong Allah, Pro U Media Jogja)

Tradera/TR/03/08/09/2014

Oleh: Umar Hidayat

Sabtu, 06 September 2014

Jujur & terbuka

Salam MANTAB MULIA, Bermanfaat, Bermartabat, Mulia ...!!!

"MAN QALLA SIDQUHU QALLA SHADIQUHU -Siapa yg sedikit kejujurannya, maka sedikit temannya"

Salah satu kiat untuk mewujudkan mimpi tentang kesuksesan adalah dengan membangun jaringan. Semakin banyak dan semakin besar jaringan yg kita bangun semakin memudahkan bagi kita untuk melakukan percepatan mewujudkan mimpi sukses kita itu.

Membangun jaringan pada prinsipnya adalah menjalin silaturahmi. Dengan silaturahmi itulah akan terbuka pintu-pintu peluang kesuksesan anda.
Ketika ada pintu yg tertutup akan ada pintu lain yg terbuka, ketika ada jalan yg buntu akan ada jalan alternatif lain yg bisa membantu.
Itulah dahsyatnya silaturahmi dalam memberikan kontribusi maksimal dalam membantu mewujudkan mimpi  sukses anda.

Jaringan yg kuat, baik, dan mempunyai daya tahan lama adalah jaringan yang dibangun berdasarkan prinsip KEJUJURAN dan KETERBUKAAN. Kejujuran dan keterbukaan akan menumbuhkan kepercayaan yg akan berujung pada terciptanya kebersamaan.
Kejujuran dan keterbukaan inilah yg menjadi modal utama untuk mewujudkan mimpi dan harapan. Maka tak heran salah satu institusi terbaik dinegeri inipun (meski jg blm bs kita katakan sempurna) berani membuat slogan "BERANI JUJUR, HEBAAAAT...!!!!

Yang patut anda ketahui, Jauh sebelum itu Rasulullah SAW telah mencontohkan terlebih dahulu tentang Kejujuran dan Keterbukaan yang membuat beliau menjadi Pengusaha Besar dan Pengusaha Sukses yang begitu dikenal hampir diseluruh jazirah Arab kala itu. Modalnya JUJUR dan TERBUKA.

Jadi, menunggu apalagi diri anda untuk tidak segera bergerak dan mewujudkan mimpi sukses anda?

Bangkit dan bangunlah jaringan anda dengan modal Kejujuran dan keterbukaan.
Sambut dan bukalah pintu kesuksesan anda melalui jalinan erat silaturahmi.

Jika anda masih bingung dan belum tahu bgmn merancang dan membangun jaringan yg kuat, maka di jamaah ODOJ ini anda sedang belajar dan berlatih tentang bgmn merancang dan membangun jaringan yang kuat khususnya dalam membumikan Al-Qur'an dan melangitkan manusia, ikuti dan nikmati setiap prosesnya, lalu perhatikan apa yg terjadi kepada diri anda sesudahnya.

Salam FULL Semangat ... !!!

Sumber : Agus Heru Pitoyo ~ Divisi Training Motivasi ODOJ

PSDM/TM/27/7/09/2014

Jumat, 05 September 2014

Sekolah kewan

"Animals Schooling"

Di sebuah Hutan belantara berdirilah sebuah sekolah para binatang.

Statusnya "disamakan" dengan sekolah manusia.

Kurikulum sekolah tersebut mewajibkan setiap siswa lulus semua pelajaran dan mendapatkan ijazah.

Terdapat 5 mata pelajaran dlm sekolah tsb.
a. Terbang
b. Berenang
C. Memanjat
d. Berlari
E. Menyelam

Banyak siswa yang bersekolah di "animals schooling", ada elang, tupai, bebek, rusa dan katak.

Terlihat diawal masuk sekolah, masing2 siswa memiiki keunggulan pada mata pelajaran tertentu.

Elang, sangat unggul dalam terbang. Dia memiliki kemampuan yg berada diatas kemampuan binatang lain.

Demikian juga katak, sangat mahir pd pelajaran menyelam.

Namun, beberapa waktu kemudian krn "animals schooling" mewajibkan semua harus lulus 5 Mapel.

Maka mulailah si Elang belajar memanjat dan berlari.

Tupai pun berkali-kali jatuh dari dahan yg tinggi krn belajar terbang.

Bebek seringkali ditertawakan meski sdh bisa berlari dan sedikit terbang. Namun sdh mulai tampak putus asa ketika mengikuti pelajaran memanjat.

Semua siswa berusaha dg susah payah namun belum jg menunjukkan hasil yg lebih baik.

Tidak ada siswa yg menguasai 5 mapel tsb dengan sempurna.

Kini, kelamaan.
Tupai sudah mulai lupa cara memanjat, bebek sudah tidak dapat berenag dg baik krn sebelah kakinya patah dan sirip kakinya robek, krn terlalu sering belajar memanjat.

Kondisi inilah yang saat ini terjadi mirip dengan kondisi pendidikan kita.
Orangtua berharap anaknya serba bisa.
Sangat stress ketika matematikanya dapat nilai 5.

Padahal baru beberapa hari lalu mendaftar & ujian beasiswa doktoral. Gak ditanya tuh matematikanya dpt brp?

Mari kita syukuri karunia  luar biasa yg sdh Alloh amanahkan kpd kita para orangtua yg memiliki anak2 yg sehat dan Lucu.

Setiap anak memiliki belahan otak dominannya masing2,

Ada yg dominan di Limbik kiri, neokortek kiri, limbik kanan, neokortek kanan, juga batang otak.

Sehingga masing2 memiliki kelebihannya masing2...

Fokuslah dengan kelebihan itu, kawal, stimulasi dan senatiasa fasilitasi agar terus berkembang.

Janganlah kita disibukkan dengan kekurangannya.

Karena sesungguhnya setiap anak yg terlahir didunia ini adalah cerdas (dikelebihannya msg2), istimewa dan mereka adalah Bintang yang bersinar diantara kegelapan Malam.

Inilah saatnya kita bergandeng tangan  menggali potensi diri anak & anak didik kita seoptimal mungkin.

Selamat beraktivitas Ayah & Bunda. Semoga Allah mudahkan segala urusan kita mengiringi kesuksesan ananda kelak di dunia & di akhirat...

ODOJ#482

Kamis, 04 September 2014

Undang-Undang Pernikahan pada Khilafah Utsmani

Wah pada khilafah Utsmani ternyata ada undang undang yg ngatur tentang pernikahan ya.. ni baru tau td diberitahu di forsil odoj heheh.. mau tau gk?
nih undang - undangnya:

1) Usia pernikahan mulai 18-25, bila sampai usia dua puluh lima tahun belum menikah maka akan dipaksa menikah.

2) Apabila seorang lelaki terhalang menikah karena sakit, maka dilihat pnyakitnya. Bila msh bisa diobati, maka akan diobati dan dinikahkan. Jika penyakitnya tidak bisa diobati maka ia tdk dinikahkan.

3) jika seorg laki2 trpksa harus tinggal di luar kota utk wkt yg lama krn pkerjaan atau urusan syar'i lainnya. Tetapi ia blm mampu mengajak istrinya, maka ia harus mlaporkan ke pemerintah setempat menjelasan perkara yg membuat ia tidak bisa membawa istrinya. Jika ia mampu untuk menikah lagi, maka ia diharuskan mnikah lagi, dan mmiliki 2 istri di dua kota. Jika urusannya sdh selesai, maka ia mesti mngumpulkan kedua istrinya di kota/daerah yg sama.

4) apabila ada lelaki smp 25 thn blm menikah tnp udzur syar'i, mk kelebihan hartanya akan
diambil scara paksa. Baik itu berasal dr upah atau laba usaha. Kmudian disimpan di "Bank Ziro'ah" untuk didistribusikan kpd para pemuda yg sudah siap nikah tetapi faqir.

5) apabila lelaki yg sdh mnikah safar ke luar kota, ia tidak mmbawa istrinya dan tidak menikah lagi, seperti trtuang pd pasal 3. Maka diambil 15% dr keinginannya, utk didistribusikan kpd yg di pasal 4. Tapi setelah 2 tahun ia harus mngajak istrinya.

6) lelaki yg blm menikah pd umur 25 tahun, ia diperlakukan seperti pasal 4. Dan seterusnya prlakuan khusus seperti tdk boleh menerima tugas dalam masalah pemerintahan, dsb.

7) lelaki yg sdh mnikah smp usia 50 tahun dan masih memiliki 1 istri. Padahal secara materi ia mampu menikah lagi, maka ia harus mnikah lagi. Jika ia beralasan dgn alasan yg tidak masuk akal, maka ia harus membantu anak2 yang faqir dan yatim untuk khidupan dan pendidikan mereka sampai mereka berpenghasilan.

8) setiap lelaki yg menikah pd usia sblm 25 tahun atau sbelum usia wamil. Maka tugas militernya selama 2 tahun. Adapun yg belum menikah pd usia wamil, maka tugas militernya 3 tahun

Selasa, 02 September 2014

Sebuah perdagangan di jalan Allah dan untuk Allah telah berlangsung selama lebih 1400 tahun

(Sebuah Kisah Nyata)
Rekening Atas Nama Usman bin Affan radhiyallahu 'anhu
1. Mungkin tak pernah terbayang oleh siapa pun, bila ada satu bank di Saudi Arabia yang sampai saat ini menyimpan rekening atas nama USMAN BIN AFFAN.
2. Apa kisah sebenarnya di balik pembangunan hotel 'Usman bin Affan Ra' yang saat ini sedang di bangun dekat Masjid Nabawi?
Apakah ada anak cucu keturunan Usman saat ini yang membangunnya atas nama moyang mereka?
Penasaran? Ikuti kisahnya berikut ini. Barangkali kita dapat mengambil pelajaran.
3. Setelah hijrah, jumlah kaum Muslimin di Madinah semakin bertambah banyak. Salah satu kebutuhan dasar yang mendesak adalah ketersediaan air jernih.
4. Kala itu sumur terbesar dan terbaik adalah Bi'ru Rumah, milik seorang Yahudi pelit dan oportunis. Dia hanya mau berbagi air sumurnya itu secara jual beli.
5. Mengetahui hal itu, Usman bin Affan mendatangi si Yahudi dan membeli 'setengah' air sumur Rumah. Usman lalu mewakafkannya untuk keperluan kaum Muslimin.
6. Dengan semakin bertambahnya penduduk  Muslim, kebutuhan akan air jernih pun kian meningkat. Karena itu, Usman pun akhirnya membeli 'sisa' air sumur Rumah dengan harga keseluruhan 20.000 dirham (kl. Rp. 5 M). Untuk kali ini pun Usman kembali mewakafkannya untuk kaum Muslimin.
7. Singkat cerita, pada masa-masa berikutnya, wakaf Usman bin Affan terus berkembang. Bermula dari sumur terus melebar menjadi kebun nan luas.
Kebun wakaf Usman dirawat dengan baik semasa pemerintahan Daulah Usmaniyah (Turki Usmani).
8. Setelah Kerajaan Saudi Arabia berdiri, perawatan berjalan semakin baik. Alhasil, di kebun tersebut tumbuh sekitar 1550 pohon kurma.
9. Kerajaan Saudi, melalui Kementrian Pertanian, mengelola hasil kebun wakaf Usman tersebut. Uang yang didapat dari panen kurma dibagi dua; setengahnya dibagikan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Sedang separuhnya lagi disimpan di sebuah bank dengan rekening atas nama Usman bin Affan.
10. Rekening atas nama Usman tersebut dipegang oleh Kementerian Wakaf.
Dengan begitu 'kekayaan' Usman bin Affan yang tersimpan di bank terus bertambah. Sampai pada akhirnya dapat digunakan untuk membeli sebidang tanah di kawasan Markaziyah (area eksklusif) dekat Masjid Nabawi.
11. Di atas tanah tersebut, saat ini tengah dibangun sebuah hotel berbintang lima dengan dana masih dari 'rekening' Usman.
Pembangunan hotel tersebut kini sudah masuk tahap akhir. Rencananya, hotel 'Usman bin Affan' tersebut akan disewakan kepada sebuah perusahaan pengelola hotel ternama.
12. Melalui kontrak sewa ini, income tahunan yang diperkirakan akan diraih mencapai lebih 50 juta Riyal (lebih Rp. 150 M).
Pengelolaan penghasilan tersebut akan tetap sama. Separuhnya dibagikan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Sedang separuhnya lagi disimpan di 'rekening' Usman bin Affan.
13. Uniknya, tanah yang digunakan untuk membangun hotel tersebut tercatat pada Dinas Tata Kota Madinah atas nama Usman bin Affan.
14. Masya Allah, saudaraku, itulah 'transaksi' Usman dengan Allah. Sebuah perdagangan di jalan Allah dan untuk Allah telah berlangsung selama lebih 1400 tahun.....berapa 'keuntungan' pahala yang terus mengalir deras kedalam pundi-pundi kebaikan Usman bin Affan di sisi Allah Swt.
The End..
(Tarjim: ust.Asep Sobari Lc)

"ODOJ#482"